JuLie ZonE



"Dunia, tempat, dan ruang yang hanya ada aku...."


It's Me...
My Word..
My Mine..
My Everything...

Selasa, 08 Oktober 2013

LAPORAN PENDAHULUAN IMUNISASI

LAPORAN PENDAHULUAN

IMUNISASI



A. Pengertian

Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya. (http://organisasi.org/)

Imunisasi adalah suatu tindakan dengan cara memasukan (suntikan / peroral) zat tertentu kedalam tubuh dimana zat tersebut berasal dari kuman penyakit oleh racun yang telah di lemahkan atau dimatikan hingga dapat memberikan kekebalan dan tubuh bereaksi terhadap zat tersebut serta dapat membuat zat anti. (http://erfansyah.blogspot.com/)

Macam-macam / jenis-jenis imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi pasif yang merupakan kekebalan bawaan dari ibu terhadap penyakit dan imunisasi aktif di mana kekebalannya harus didapat dari pemberian bibit penyakit lemah yang mudah dikalahkan oleh kekebalan tubuh biasa guna membentuk antibodi terhadap penyakit yang sama baik yang lemah maupun yang kuat.



B. Tujuan

Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap.

Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya.

Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.



C. Vaksin

Vaksin adalah kuman atau racun yang dimasukkan kedalam tubuh bayi atau anak yang disebut antigen, yang akan bereaksi dengan antibodi sehingga menimbulkan kekebalan pada tubuh. Secara garis besar terdapat 2 jenis vaksin :

1. LIVE ATTENUATED

Bakteri atau virus yang dilemahkan, diproduksi dengan caa melakukan vodifikasi virus atau bakteri penyebab penyakit. Mikroorganisme yang dihasilkan tersebut masih memiliki kemampuan untuk tumbuh dan menimbulkan kekebalan tetapi tidak menimbulkan penyakit Vaksin ini bersifat labil dan mudah mengalami kerusakan bila kena panas dan sinar seperti campak, polio dan BCG.

2. VAKSIN INACTIVATED

Dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam media pembiakan kemudian dibuat tidak aktif seperti rabiaes, hepatitis dan Tetanus Toksoid.



D. Vaksin Imunisasi

Vaksin imunisasi mungkin dapat memberikan efek samping yang membuat bayi atau anak jatuh sakit tapi dampak positif perlindungan yang dihasilkan amat sangat berguna. Macam – macam vaksin imunisasi yang wajib diberikan :

1. Hepatitis B


· Vaksin ini diberikan untuk mencegah tertularnya penyakit hepatitis (infeksi hati atau kanker hati).
· Vaksin Hepatitis B diberikan secara Intramuscular di paha kanan atau kiri dengan dosis 0.5 ml.
· Disimpan pada suhu 2 – 8 oC.
· Hepatitis B diberikan pada bayi baru lahir (0 – 7 hari) kemudian diulangi 1 bulan setelahnya sampai 3 kali digabungkan dengan imunisasi DPT.

· KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) :

- Reaksi lokal kemerahan

- Bengkak

- Demam ringan ± 2 hari

- Nyeri sendi atau otot



2. BCG

· Bacilee Calmette Guerin (BCG) adalah vaksin yang dibuat dari bakteri Mycobakterium Bovis yang dibiakkan selama 1 – 3 tahun.

· Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit TB atau Tuberkulosis (sakit paru-paru) yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis dan Mycobacterium Bovis.

· Vaksin BCG diberikan secara Intracutan di lengan kanan atas dengan dosis 0.05 ml.

· Vaksin ini diberikan pada bayi baru lahir berusia 1 – 2 bulan, efek proteksi timbul 8 – 12 minggu setelah penyuntikan.

· Cara penyimpanan vaksin :

- Disimpan dalam suhu 2 – 8 oc

- Tidak boleh terkena sinar matahari langsung

- Vaksin yang sudah diencerkan harus dibuang dalam 3 atau 8 jam

· KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) :

- Menimbulkan ulkus lokal 3 minggu setelah penyuntikan

- Menimbulkan parut ular



3. Poliomielitis

· Vaksin Poliomielitis adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah penyakit polio (lumpuh layu).

· Vaksin Poliomielitis diberikan peroral sebanyak dua tetes (0.1 ml).

· Vaksin ini diberikan sejak bayi lahir atau berusia 1 bulan kemudian diberikan lagi 1 bulan selanjutnya sampai 3 kali pemberian.

· Vaksin Poliomielitis dapat disimpan :

- Sebelum dibuka, pada suhu – 20 oc = potensi sampai 2 tahun

- Suhu 2 – 8 oc = potensi sampai 6 bulan

- Setelah dibuka pada suhu 2 – 8 oc = potensi sampai 7 hari

· KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) :

- Pusing

- Diare ringan

- Sakit pada otot



4. DPT

· Difteri, Pertusis, Tetanus (DPT) adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah penyakit Difteri (penyakit akut yang bersifat Toxinmediated Disease yang disebabkan oleh Corynebacterium Diphteriae), Pertusis (batuk rejan yang disebabkan oleh Borditella Pertusis) dan Tetanus (suatu penyakit akut yang disebabkan oleh Eksotoksin Clostridium Tetani).

· Vaksin DPT diberikan secara Intramuscular pada paha kanan atau kiri dengan dosis 0.5 ml.

· Tiap 1 ml vaksin DPT mengandung 40 lf Toksoid Difteria, 24 ou Pertusis.

· Vaksin ini diberikan pada anak berusia 2 bulan dan diberikan ulang bulan berikutnya sampai 2 kali pemberian.

· Cara penyimpanan:

- Suhu 2 – 8 oc

- Dikocok sampai homogeny sebelum digunakan



· KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi):

- Panas atau demam

- Peradangan

- Kejang – kejang



5. Campak

· Vaksin campak diberikan secara subcutan atau Intramuscular di lengan atas dengan dosis 0.5 ml.

· Tiap 0.5 ml mengandung 1000 u virus Strain CAM 70, 100 mcg kanamisin, dan 30 mg Eritromisin.

· Vaksin campak diberikan pada bayi berusia 9 bulan.

· Vaksin ini disimpan :

- Vaksin kering pada suhu < 0 oc atau < 8 oc lebih baik lagi pada suhu – 20 oc

- Pelarut vaksin tidak boleh beku

- Setelah vaksin dilarutkan disimpan pada suhu 2 – 8 oc (maksimal 8 jam)

· KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) :

- Reaksi alergi

- Demam

LAPORAN PENDAHULUAN VOMITING

LAPORAN PENDAHULUAN

VOMITING



A. Pengertian

Vomiting atau biasa disebut muntah adalah proses keluarnya isi lambung yang berupa cairan lambung yang bercampur makanan melalui mulut. Hal ini dapat terjadi sebagai reflek protektif untuk mengeluarkan bahan toksik dari dalam tubuh atau untuk mengurangi tekanan dalam organ intestinal yang dibawahnya didapatkan obstruksi, yang biasanya didahului nausea dan retching.

(http://askepsolok.blogspot.com/)

Muntah dapat terjadi secara regurgitasi dari isi lambung sebagai akibat refluks gastroesofageal atau dengan menimbulkan refleks emetik yang menyebabkan mual, kontraksi dari diafragma, interkostal, dan otot abdomen anterior serta ekspulsi dengan kekuatan isi lambung.



B. Etiologi

Mutah adalah gejala dari berbagai macam penyakit, maka evaluasi diagnosis mutah tergantung pada deferensial diagnosis yang dibuat berdasarkan faktor lokasi stimulus, umur dan gejala gastrointestinal yang lain. Kelainan anatomik kongenital, genetik, dan penyakit metabolik lebih sering terlihat pada periode neonatal, sedangkan peptik, infeksi, dan psikogenik sebagai penyebab mutah lebih sering terjadi dengan meningkatnya umur.

Intoleransi makanan, perilaku menolak makanan dengan atau tanpa mutah sering merupakan gejala dari penyakit jantung, ginjal, paru, metabolik, genetik, kelainan neuromotor.

Penyebab muntah bisa karena :
  1. Penyakit infeksi atau radang di saluran pencernaan atau di pusat keseimbangan
  2. Penyakit-penyakit karena gangguan metabolisme seperti kelainan metabolisme karbohidrat (galaktosemia dan sebagainya), kelainan metabolisme asam amino/asam organic (misalnya gangguan siklus urea dan fenilketonuria)
  3. Gangguan pada system syaraf (neurologic) bisa karena gangguan pada struktur (misalnya hidrosefalus), adanya infeksi (misalnya meningitis dan ensefalitis), maupun karena keracunan (misalnya keracunan syaraf oleh asiodosis dan hasil samping metabolisme lainnya)
  4. Masalah sensitifitas
  5. Keracunan makanan atau Toksin di saluran pencernaan
  6. Kondisi fisiologis misalnya yang terjadi pada anak-anak yang sedang mencari perhatian dari lingkungan sekitarnya dengan mengorek kerongkongan dengan jari telunjuknya.

Penyakit gastroenteritis akut merupakan penyebab muntah yang paling sering terjadi pada anak-anak. Pada kondisi ini, muntah biasanya terjadi bersama-sama dengan diare dan rasa sakit pada perut. Pada umumnya disebabkan oleh virus dan bakteri patogen. Virus utama penyebab muntah adalah rotavirus, sementara bakteri patogen mencakup Salmonella, Shigella, Campylobacter dan Escherichia coli.



C. Patofisiologi

Mutah terjadi melalui mekanisme yang sangat komplek, dimana pada manusia mutah terdiri dari 3 aktivitas yang terkait yaitu nausea (mual), retching dan pengeluaran isi lambung. Muntah terjadi apabila terdapat kondisi tertentu yang merangsang pusat muntah atau Central Vomiting Center (CVC), pada zona pemicu kemoreceptor atau Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ) yang berada di sistem saraf pusat (Central Nervous System)

Pusat-pusat koordinasi muntah ini dapat diaktifkan oleh berbagai cara. Muntah yang terjadi karena stress fisiologis, berlangsung karena adanya sinyal yang dikirimkan melalui lapisan otak luar dan limbic system ke pusat muntah (CVC). Muntah yang berhubungan dengan gerakan terjadi jika CVC distimulasi melalui sistim pengaturan otot (vestibular atau vestibulocerebellar system) dari labirin yang terdapat pada telingan bagian dalam. Sinyal kimia dari aliran darah dan cairan cerebrospinal (jaringan syaraf otak sampai tulang ekor) dideteksi oleh CTZ.

Ujung syaraf dan syaraf-syaraf yang ada didalam saluran pencernaan merupakan penstimulir muntah jika terjadi iritasi saluran pencernaan, kembung dan tertundanya proses pengosongan lambung. Ketika pusat muntah (CVC) distimulasi, maka motor dari cascade akan bereaksi menyebabkan muntah.

Kontraksi non peristaltic didalam usus halus meningkat, gallbladder berkontraksi dan sebagian isi dari usus dua belas jari masuk kedalam lambung. Kondisi ini diikuti dengan melambatnya gerakan peristaltik yang akan mendorong masuknya isi usus halus dan sekresi pankreas kedalam lambung dan menekan aktivitas lambung. Sementara itu, otot-otot pernapasan akan berkontraksi untuk melawan celah suara yang tertutup, sehingga terjadi pembesaran kerongkongan. Pada saat otot perut (abdominal) berkontraksi, isi lambung akan didorong masuk kedalam kerongkongan. Relaksasi dari otot-otot perut memungkinkan isi kerongkongan masuk kembali kedalam lambung. Siklus dari muntah-muntah berlangsung cepat sampai semua isi lambung yang masuk ke kerongkongan dikeluarkan semua melalui mulut.



D. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala Vomiting atau Muntah antara lain:

  1. Keringat dingin
  2. Suhu tubuh yang meningkat
  3. Mual
  4. Nyeri perut
  5. Akral teraba dingin
  6. Wajah pucat
  7. Terasa tekanan yang kuat pada abdomen dan dada
  8. Pengeluaran saliva yang meningkat
  9. Bisa disertai dengan pusing


E. Pengobatan

Pengobatan pada pasien dengan vomiting atau muntah bertujuan untuk mencegah dan menghilangkan penyebab, tanda dan gejalanya, yaitu:

1. Atasi penyebab utama muntah

2. Berikan alternative pencegah muntah

3. Atasi dehidrasi sejak awal dengan pemberian cairan oralit atau air putih

4. Berikan obat anti muntah atau antiemetic sesuai resep dokter

5. Atasi demam dengan kompres atau pemberian obat penurun panas

6. Apabila muntah disebabkan oleh maag dapat diberikan obat maag

7. Apabila muntah disebabkan oleh kuman, bakteri atau virus dapat diberikan obat antibiotik.



F. Pencegahan

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari Vomiting atau muntah adalah dengan:

1. Hindari makan makanan yang kotor dan tidak sehat

2. Jaga pola makan agar teratur

3. Atasi kondisi – kondisi yang dapat menyebabkan muntah

4. Jaga kebersihan pribadi dan lingkungan sekitar

5. Istirahat yang cukup

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR NORMAL

ASUHAN KEBIDANAN

PADA BAYI BARU LAHIR NORMAL

DI RUANG BAYI

RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN



Pengkajian

Hari / Tanggal : Kamis, 28 April 2011

Jam : 06.53 Wita

No. RMK : 17.77.49



A. DATA SUBJEKTIF

1. Identitas

a. Pasien

Nama Bayi : By. N

Umur : 0 Hari

Tanggal Lahir : 28 April 2011

Jenis Kelamin : Laki - laki



b. Orang Tua

Nama Ibu : Ny. N

Umur : 28 tahun

Agama : Islam

Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : IRT

Alamat : Jl. Cakra Indah No. 30 Handil Bakti



Nama Ayah : Tn. T

Umur : 34 tahun

Agama : Islam

Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Swasta

Alamat : Jl. Cakra Indah No. 30 Handil Bakti



2. Keluhan Utama : Bayi baru lahir secara normal spontan belakang kepala, segera menangis, anus (+), cacat (-), dengan jenis kelamin laki – laki.



3. Riwayat Kehamilan Sekarang

a. Riwayat Penyakit kehamilan

Perdarahan : Tidak Pernah

Pre-eklamsi : Tidak Pernah

Eklamsi : Tidak Pernah

Penyakit Kelamin : Tidak Pernah

Lain – lain : Tidak Ada



b. Kebiasaan Waktu Hamil

Nutrisi : Ibu mengatakan ia makan 3 kali sehari dengan menu seporsi nasi dengan lauk dan ssayuran yang bervariasi setiap harinya ditambah buah – buahan dan terkadang segelas susu.

Cairan : Ibu mengatakan ia minum 8 – 12 gelas air setiap harinya.

Obat – obatan / Jamu : B6, Fe, Vitamin C dan Kalk

Merokok : Tidak pernah

Lain – lain : Tidak ada



4. Riwayat Persalinan Sekarang

Hari / Tanggal : Kamis, 28 April 2011

Jam Lahir : 05.53 Wita

Ditolong Oleh : Dokter Sp.OG

a. Data Persalinan

Kala I : Saat ibu dating ke rumah sakit, ketuban sudah pecah secara spontan dengan pembukaan 2 cm. Kira – kira 6 jam kemudian blood slym keluar saat pembukaan lengkap 10 cm.

Kala II : Lamanya 20 menit, persalian spontan pervaginam – belakang kepala, bayi lahir dengan normal dan dalam keadaan hidup, jenis kelamin laki – laki, berat badan 2600 gram, panjang badan 49 cm, tidak ada lilitan tali pusat dan dengan episiotomi pada perineum.

Kala III : Lamanya 10 menit, plasenta lahir spontan, kotiledon dan selaput ketuban lengkap, kontraksi uterus baik dan pendarahan normal.

Kala IV : Berlangsung normal 2 jam postpartum. Kontraksi uterus baik dan pengeluaran lokhea normal.



b. Komplikasi Persalinan

Ibu : Tidak ada

Bayi : Tidak ada





B. DATA OBJEKTIF

1. Pemeriksaan Umum

a. Keadaan Umum : Baik

b. Berat Badan : 2600 Gram

c. Panjang Badan : 49 Cm

d. Tanda-Tanda Vital

Denyut Nadi : 140× / menit

Suhu Tubuh : 35,8 oC

Respirasi : 60 kali / menit

e. APGAR SCORE : 8, 9, 10





KRITERIA

0

1

2

1'

5'

10'


A : Apperance

Color

(warna kulit )







P : Pulse (Nadi)





G : Grimace (refleks/reaksi terhadap rangsangan)





A : Activity (Tonus otot)







R : Respiration (Usaha nafas )

Pucat











Tidak ada







Tidak Ada









Lumpuh









Tidak ada

Badan Merah

Ekstremitas biru







<100x/menit





Sedikit Gerakan







Eksterimitas dalam Flexi sedikit







Lambat/ tidak teratur

Seluruh tubuh kemerah-merahan









>100x/menit





Menagis, batuk/ bersin







Gerakan Aktif











menangis kuat

2











2





1









1











2

2











2





1









2











2

2











2





2









2











2


Jumlah nilai







8

9

10






2. Pemeriksaan Khusus

a. Inspeksi

1) Kepala : Ubun – ubun tampak datar, kulit kepala tampak bersih dan tidak tampak caput succadeum dan cephal hematoma.

· Muka : Tampak kemerahan

· Mata : Tampak simetris dan normal, kongjungtiva tidak tampak pucat dan sklera tidak tampak ikterik.

· Hidung : Tampak normal, tidak tampak adanya Sekret dan tidak tampak adanya pernapasan cuping hidung.

· Telinga : Tampak simetris dan normal, tidak tampak adanya kelainan.



2) Mulut : Mukosa bibir dan mulut tampak basah, lidah tidak tampak pucat dan bibir tidak tampak sianosis.

3) Leher : Tidak tampak adanya kelainan dan pembesaran kelenjar tiroid.

4) Dada : Bentuk tampak simetris, tidak tampak adanya benjolan abnormal.

5) Abdomen : Bentuk tampak simetris dan tali pusat tampak basah.

6) Genetalia : Jenis kelamin laki-laki

7) Anus : Positif berlubang

8) Ekstermitas : Jari tangan dan kaki tampak lengkap dan bergerak aktif.



b. Palpasi

1) Kepala : Ubun – ubun teraba datar, sutura belum menutup dan tidak teraba adanya caput succedeum dan chepal hematoma.

2) Kulit : Tugor kulit teraba bagus

3) Abdomen : Tidak teraba adanya benjolan abnormal

4) Punggung : Tidak teraba adanya kelainan.



c. Auskultasi

1) Dada : Pernapasan terdengar normal dan bunyi jantung terdengar teratur, tidak terdengar adanya Wheezing dan Ronchi.







d. Refleks

1) Refleks moro : (+) Saat bayi dikagetkan, reaksi bayi seperti ingin memeluk

2) Refleks rooting : (+) Saat disentuh pipinya bayi menoleh

3) Refleks grasping : (+) Saat disentuh telapak tangan, bayi refleks menggenggam

4) Refleks sucking : (+) Saat bayi disusui maka ia akan mengisap kuat

5) Refleks tonic neck : (+) Saat kedua tangan bayi di tarik lehernya seperti menahan.

6) Refleks babynsky : (+) Saat telapak kaki disentuh, jempol kaki fleksi sementara jari- jari lain ekstensi

7) Refleks walking : (+) Saat bayi diangkat dan disentuh kepermukaan diatas, bayi seperti melangkah.



e. Antropometri

1) Lingkar kepala : 32 Cm

2) Circumferensia Mento Occipitalis : -

3) Circumferensia Fronta Occipitalis : -

4) Circumferensia Subocciput Bregmatica : -



3. Pemeriksaan Penunjang

Tidak dilakukan pemeriksaan





C. ASSESMENT

Bayi baru lahir normal berumur 1 jam







D. PENATALAKSANAAN

1. Memberitahukan hasil pemeriksaan pada Ibu bahwa bayinya dalam keadaan sehat dan normal dengan hasil pemeriksaan :

Keadaan Umum : Baik

Berat Badan : 2600 Gram

Panjang Badan : 49 Cm

Lingkar Kepala : 32 Cm

Tanda-Tanda Vital

Denyut Nadi : 140× / menit

Suhu Tubuh : 35,8 oC

Respirasi : 60 kali / menit



2. Memberitahukan kepada ibu tentang cara pencegahan infeksi, yaitu:

a. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan atau ketika akan menyentuh bayi.

b. Memakai masker apabila sedang flu atau batuk



3. Memberitahukan ibu bagaimana cara menjaga kehangatan bayinya, yaitu :

a. Tunda memandikan bayi sekurang – kurangnya 6 jam setelah kelahiran

b. Keringkan bayi sampai benar – benar bersih dan kering

c. Pakaikan baju, celana sarung tangan, sarung kaki dan bungkus bayi dengan selimut atau kain kering serta pakaikan topi.

d. Teempatkan bayi diruanagn yang hangat dan bersih

e. Ganti pakaian dan selimut apabila lembab atau basah



4. Memberitahukan kepada ibu bagaimana cara menjaga personal hygiene bayi, yaitu :

a. Mandikan bayi 2 kali sehari dengan air hangat yang bersih dan gunakan sabun serta shampo.

b. Ganti popok bayi apabila sudah basah dengan popok baru yang lebih bersih dan kering

c. Ganti pakaian bayi setelah mandi atau apabila terasa lembab dan basah.

d. Bersihkan pantat dan alat kelamin bayi setelah bayi BAK atau BAB.



5. Memberitahukan ibu bagaimana cara merawat tali pusat bayi, yaitu:

a. Mengganti kassa pembalut tali pusat bayi setelah mandi atau apabila basah dengan kassa baru yang lebih bersih dan kering.

b. Jangan memberikan atau membubuhkan sesuatu apapun, baik itu obat maupun ramuan tradisional pada tali pusat yang masih basah.

c. Jaga tali pusat agar tetap dalam keadaan bersih dan kering.



6. Memberitahukan kepada ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, yaitu dengan cara :

a. Memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan tanpa pemberian makanan pendamping atau pengganti.

b. Memberikan ASI sedini mungkin setelah bayi lahir karena ASI yang pertama keluar mengandung colustrum yang sangat penting untuk daya tahan tubuh bayi.

c. Menyusui bayi setiap kali bayi menangis, tampak gelisah atau saat payudara terasa penuh dan tidak nyaman.



7. Memberitahukan ibu tentang tanda – tanda anak sakit, yaitu:

- Sesak Napas

- Rewel

- Kesadaran menurun

- Lemas

- Lemah

- Tidur terus

- Demam tinggi

- Tidak mau menyusu

- Tali pusat kemerahan dan berbau busuk

- Banyak diam

- Muntah

- Sianosis

- Kejang



8. Menganjurkan ibu untuk memberikan imunisasi pada anaknya, yaitu antara lain :



No.

Vaksin

Pemberian

Umur


1.

HB 0

I

0 Bulan


2.

BCG

I

1 Bulan


3.

Polio

I

II

II

IV

1 Bulan

2 Bulan

3 Bulan

4 Bulan


4.

DPT + Hepatitis B

I

II

III

2 Bulan

3 Bulan

4 Bulan


5.

Campak

I

9 Bulan

ASUHAN KEBIDANAN PADA ANAK SAKIT DENGAN GASTROENTERITIS AKUT

ASUHAN KEBIDANAN

PADA ANAK SAKIT DENGAN GASTROENTERITIS AKUT

DI RUANG AL – HAITAM

RUMAH SAKIT ISLAM BANJARMASIN



Pengkajian

Hari / Tanggal : Rabu, 20 April 2011

Jam : 18.15 Wita

No. RMK : 602. A



A. DATA SUBJEKTIF

1. Identitas

a. Pasien

Nama Anak : An. A

Umur : 15 bulan

Jenis Kelamin : Laki - laki

Agama : Islam

Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia

Alamat : Jl. Kelayan A Komp. Setuju No. 16 Rt. 17



b. Orang Tua

Nama Ibu : Ny. A

Umur : 23 tahun

Agama : Islam

Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : IRT

Alamat : Jl. Kelayan A Komp. Setuju No. 16 Rt. 17



Nama Ayah : Tn. R

Umur : 32 tahun

Agama : Islam

Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Swasta

Alamat : Jl. Kelayan A Komp. Setuju No. 16 Rt. 17



2. Keluhan Utama : Ibu mengatakan anaknya demam dan BAB cair berampas hingga 10 kali sejak 2 hari yang lalu.



3. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Ibu mengatakan anaknya sudah 2 hari mengalami demam dan BAB cair berampas hingga 10 kali sejak 2 hari yang lalu.



b. Riwayat kesehatan Terdahulu

Ibu mengatakan bahwa anaknya dulu pernah menderita diare tetapi tidak dirawat di Rumah Sakit



c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan bahwa dari pihaknya maupun suaminya tidak pernah menderita penyakit yang menurun seperti Asma, DM, TBC dan penyakit yang menular.



4. Riwayat Kehamilan dan Persalinan

a. Prenatal

Ibu mengatakan sering memeriksakan kehamilannya secara rutin di Puskesmas



b. Intranatal

Ibu mengatakan melahirkan secara normal (spontan - belakang kepala) dan ditolong oleh bidan di Rumah



c. Postnatal

Ibu mengatakan anaknya langsung menangis waktu lahir dengan berat badan 3500 gram dan panjang badan 48 cm.



5. Riwayat Tumbuh Kembang

a. Tengkurap : 8 bulan

b. Duduk : 10 bulan

c. Berdiri : 13 bulan

d. Berjalan : 14 bulan



6. Riwayat Imunisasi



No.

Vaksin

Pemberian

Umur


1.

BCG

I

1 Bulan


2.

Polio

I

II

II

IV

1 Bulan

-

3 Bulan

-


3.

DPT + Hepatitis B

I

II

III

-

3 Bulan

-


4.

Campak

I

-




7. Riwayat Sosial Budaya

a. Keluarga pasien berpandangan bahwa kesehatan anak itu penting

b. Keadaan lingkungan bersih

c. Pengasuh anak adalah kedua orang tua dan nenek









8. Data Biologis



Data Biologis

Di Rumah

Di Klinik


Nutrisi

- Makanan

- Cairan

- Frekuensi

- Nafsu makan

- Bubur Nasi

- Susu

- 5 kali sehari

- Baik

- Bubur Nasi

- Air putih

- 3 kali sehari

- Baik


Pola Istirahat

- Tidur siang hari

- Tidur malam hari

- ± 4 jam

- ± 10 jam

- ± 4 jam

- ± 7 jam


Pola Aktivitas



- Berjalan

- Bermain

- Duduk

- Di gendong

- Berbaring

- Bermain

- Duduk

- Di Gendong


Pola Eliminasi

BAB

- Frekuensi

- Warna

- Konsistensi







BAK

- Frekuensi

- Warna

- Bau



- > 10 kali sehari

- Kuning

- Cair dan berampas





- 5 – 6 kali sehari

- Kuning jernih

- Pesing



- ± 2 – 4 kali sehari

- 9 – 10 kali

- Cair dan berampas





- 5 – 6 kali sehari

- Kuning

- Pesing






B. DATA OBJEKTIF

1. Pemeriksaan Umum

a. Keadaan Umum : Lemah

b. Kesadaran : Composmentis

c. Berat Badan : 10,3 Kg

d. Tanda-Tanda Vital


· Denyut Nadi : 110× / menit

· Suhu Tubuh : 38 oC

· Respirasi : 26 kali / menit

2. Pemeriksaan Khusus

a. Inspeksi

1) Kepala : Ubun – ubun tampak datar, bentuk tampak mesocefali dan kulit kepala tampak bersih

· Muka : Tampak pucat

· Mata : Tampak cekung, kongjungtiva tampak pucat, sklera tidak tampak ikterik dan fungsi penglihatan baik.

· Hidung : Tidak tampak adanya Sekret dan Polip, serta tidak tampak adanya pernapasan cuping hidung.

· Telinga : Tampak simetris, tidak tampak adanya Serumen dan Benjolan Abnormal.

· Mulut / Gigi : Lidah tampak kotor, mukosa bibir tampak kering dan pucat, tidak tampak adanya peradangan selaput lendir mulut, sariawan, caries gigi, stomatitis, gusi bengkak dan gigi berlubang.

2) Leher : Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe dan pelebaran vena.

3) Dada : Bentuk tampak simetris, tidak tampak adanya benjolan abnormal.

4) Abdomen : Bentuk tampak simetris

5) Genetalia : Tidak dilakukan pemeriksaan.

6) Ekstermitas : Tidak tampak adanya varises dan bengkak.

b. Palpasi

1) Leher : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe dan pelebaran vena.

2) Dada : Tidak teraba adanya benjolan abnormal

3) Abdomen : H / L / M tidak teraba

4) Ekstermitas : Tidak teraba adanya Varises dan Odema dan akral teraba hangat.

5) Kulit : Tugor kulit teraba jelek (tidak cepat kembali)



c. Auskultasi

1) Dada : Tidak terdengar adanya Wheezing

2) Abdomen : Bising usus terdengar meningkat



d. Perkusi

1) Abdomen : Hypertimpani (+)



3. Pemeriksaan Penunjang

Tidak dilakukan pemeriksaan



C. ASSESMENT

Anak umur 15 bulan dengan Gastroenteritis Akut



D. PENATALAKSANAAN

1. Planning

a. Beritahukan hasil pemeriksaan pada keluarga pasien

b. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan cairan anaknya

c. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya

d. Anjurkan ibu untuk menjaga pola istirahat anaknya

e. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan fisik dan lingkungan di sekitar anaknya

f. Anjurkan ibu untuk melakuakn perubahan posisi pada anaknya

g. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat

h. Beritahu ibu tentang tanda – tanda anak sakit

i. Monitor Tanda – Tanda Vital, tetesan Infus, intake dan Output cairan



2. Implementasi

a. Memberitahukan hasil pemeriksaan pada keluarga pasien bahwa pasien mengalami diare yang disertai dehidrasi yang kemungkinan disebabkan oleh virus atau bakteri patogen. Hasil pemeriksaan :

Tanda – Tanda Vital

Nadi : 110x / menit

Respirasi : 26x / menit

Suhu : 38 oC

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Lemah

Kesadaran : Composmentis

BB : 10,3 Kg

b. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan cairan anaknya, yaitu dengan cara :

- Meminumkan air putih lebih banyak minimal 8 gelas / hari

- Air dapat disediakan dalam kondisi hangat untuk mencegah mual

- Apabila anak minum susu formula maka air susu dibuat lebih encer

- Meminumkan oralit sesuai izin dari dokter

c. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya, dengan cara :

- Menyediakan makanan yang lunak dan mudah dicerna

- Makanan dikonsumsi dalam porsi kecil tapi sering

- Makanan haruslah rendah serat dan lemak

- Usahakan untuk menyediakan makanan yang bersih, sehat dan mengandung cukup karbohidrat, protein, vitamin, kalsium dan mineral.

d. Menganjurkan ibu untuk menjaga pola istirahat anaknya dengan cara mengurangi aktivitas bermainnya dan menidurkannya tepat waktu, minimal tidur di siang hari sekitar 3 – 4 jam dan tidur di malam hari sekitar 8 – 10 jam.

e. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan fisik dan lingkungan di sekitar anaknya, dengan cara :

- Cuci tangan sebelum makan dan sesudah BAK atau BAB

- Mandi minimal 2 kali sehari

- Mengganti pakaian anak apabila lembab

- Menjaga kebersihan lingkungan

f. Menganjurkan ibu untuk melakukan perubahan posisi pada anaknya, anak dapat diajak beraktifitas seperti berjalan – jalan, duduk dan bermain, tidak harus terus – menerus berbaring.

g. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian :

1) Mengatasi Dehidrasi

- Pemberian cairan peroral (air putih atau larutan oralit)

- Pemberian cairan intravena (IVFD KA-EN 3B)

Rehidrasi = 25 tetes / menit

Maintanace = 12 tetes / menit

2) Pemberian Obat

- Injeksi Rycef ( 2 x 250 mg)

- Dialac (3 x 1 Bks)

- Interzink Syrup (1 x 1 cth)

- Novalgin Syrup (1 x 1 cth)

- Naprex Syrup (3 x cth)

h. Memberitahukan ibu tentang tanda – tanda anak sakit, yaitu:

- Rewel

- Kesadaran menurun

- Lemas

- Lemah

- Tidur terus

- Demam tinggi

- Tidak nafsu makan

- Malas

- Banyak diam

- Muntah

i. Memonitor TTV setiap 6 jam sekali atau apabila ada keluhan, memonitor tetesan infuse, memonitor intake dan output cairan setiap 6 jam sekali atau perhari.



3. Evaluasi

a. Keluarga pasien mengetahui dan dapat menerima hasil dari pemeriksaan yang telah dilakukan

b. Ibu mengerti dan bersedia melakukan apa yang telah dianjurkan

c. Observasi terus dilakukan setiap 6 jam setiap harinya

ASUHAN KEBIDANAN PADA ANAK SAKIT DENGAN VOMITING

ASUHAN KEBIDANAN

PADA ANAK SAKIT DENGAN VOMITING

DI KLINIK HANDIL BAKTI BARITO KUALA



Pengkajian

Hari / Tanggal : Senin, 11 April 2011

Jam : 18.30 Wita

No. RMK : 3178



A. DATA SUBJEKTIF

1. Identitas

a. Pasien

Nama Anak : An. A

Umur : 8 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia

Alamat : Anjir Muara Lama



b. Orang Tua

Nama Ibu : Ny. M

Umur : 44 tahun

Agama : Islam

Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia

Pendidikan : D2

Pekerjaan : PNS

Alamat : Anjir Muara Lama



Nama Ayah : Tn. S

Umur : 48 tahun

Agama : Islam

Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia

Pendidikan : S1

Pekerjaan : PNS

Alamat : Anjir Muara Lama



2. Keluhan Utama : Ibu mengatakan anaknya muntah disertai demam dan nyeri perut sejak 2 hari yang lalu.



3. Riwayat Kesehatan

a. Riwayat Kesehatan Sekarang

Ibu mengatakan anaknya sudah 2 hari mengalami muntah – muntah yang disertai demam dan nyeri perut.



b. Riwayat kesehatan Terdahulu

Ibu mengatakan bahwa anaknya dulu pernah menderita gejala Tifoid tetapi tidak dirawat di Rumah Sakit



c. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan bahwa suaminya tidak pernah menderita penyakit yang menurun dan penyakit yang menular. Tetapi dari pihak Ibu sendiri pernah menderita penyakit Asma.



4. Riwayat Kehamilan dan Persalinan

a. Prenatal

Ibu mengatakan sering memeriksakan kehamilannya di Bidan Praktik Swasta

b. Intranatal

Ibu mengatakan melahirkan secara normal (spontan - belakang kepala) dan ditolong oleh bidan di Klinik Bersalin

c. Postnatal

Ibu mengatakan anaknya langsung menangis waktu lahir dengan berat badan 2900 gram dan panjang badan 50 cm.



5. Riwayat Tumbuh Kembang

a. Tengkurap : 6 bulan

b. Duduk : 8 bulan

c. Berdiri : 11 bulan

d. Berjalan : 12 bulan



6. Riwayat Imunisasi



No.

Vaksin

Pemberian

Umur


1.

BCG

I

1 Hari


2.

Polio

I

II

II

IV

1 Hari

2 Bulan

3 Bulan

4 Bulan


3.

DPT + Hepatitis B

I

II

III

2 Bulan

3 Bulan

4 Bulan


4.

Campak

I

9 Bulan




7. Riwayat Sosial Budaya

a. Keluarga pasien berpandangan bahwa kesehatan anak itu penting

b. Keadaan lingkungan bersih

c. Pengasuh anak adalah kedua orang tua dan nenek















8. Data Biologis



Data Biologis

Di Rumah

Di Klinik


Nutrisi

- Makanan



- Cairan



- Frekuensi





- Nafsu makan

- Nasi, Lauk dan Sayuran

- Air putih dan Air Teh

- Tiga kali sehari



- Baik

- Bubur Nasi



- Susu



- Lima kali sehari dengan porsi kecil

- Kurang


Pola Istirahat

- Tidur siang hari

- Tidur malam hari

- ± 3 jam



- ± 10 jam

- ± 4 jam



- ± 10 jam


Pola Aktivitas



- Belajar

- Bermain

- Berbaring

- Duduk


Pola Eliminasi

BAB

- Frekuensi

- Warna

- Konsistensi



BAK

- Frekuensi

- Warna

- Bau

- 1 kali sehari

- Kuning

- Lembek







- 6 – 8 kali sehari

- Kuning jernih

- Pesing



- Tidak ada











- 9 – 10 kali sehari

- Kuning

- Pesing












B. DATA OBJEKTIF

1. Pemeriksaan Umum

a. Keadaan Umum : Lemah

b. Kesadaran : Composmentis

c. Tinggi Badan : 90 cm

d. Berat Badan : 16 Kg

e. Tanda-Tanda Vital



· Denyut Nadi : 90× / menit

· Suhu Tubuh : 36,9 oC

· Respirasi : 28 kali / menit

2. Pemeriksaan Khusus

a. Inspeksi

1) Kepala

· Rambut : Tampak bersih dan tidak tampak adanya ketombe dan rontok.

· Muka : Tampak pucat

· Mata : Tampak cekung, kongjungtiva tampak pucat, sklera tidak tampak ikterik dan fungsi penglihatan baik.

· Hidung : Tidak tampak adanya Sekret dan Polip, serta tidak tampak adanya pernapasan cuping hidung.

· Telinga : Tampak simetris, tidak tampak adanya Serumen dan Benjolan Abnormal.

· Mulut / Gigi : Lidah tampak kotor, mukosa bibir tampak kering dan pucat, tidak tampak adanya peradangan selaput lendir mulut, sariawan, caries gigi, stomatitis, gusi bengkak dan gigi berlubang.

2) Leher : Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe dan pelebaran vena.

3) Dada : Bentuk tampak simetris, tidak tampak adanya benjolan abnormal.

4) Abdomen : Bentuk tampak simetris dan datar.

5) Genetalia : Tidak dilakukan pemeriksaan.

6) Ekstermitas : Tidak tampak adanya varises dan bengkak.



b. Palpasi

1) Leher : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar limfe dan pelebaran vena. Nyeri tekan (+)

2) Abdomen : Nyeri tekan (+) kuadran bawah kiri

3) Ekstermitas : Tidak teraba adanya Varises dan Odema dan akral teraba hangat.



c. Auskultasi

1) Wizzing : Negatif (-)

2) Bising Usus : Positif (+) meningkat



d. Perkusi

1) Abdomen : Hypertimpani (+)

2) Cek Ginjal : Negatif kanan dan kiri ( )



3. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Widal Slide Test ( TY-H 1/80 (+) ; 1/160 (+) ; 1/320 (+) )







C. ASSESMENT

Anak umur 8 tahun dengan Obs. Vomiting dan dehidrasi ringan.



D. PENATALAKSANAAN

1. Planning

a. Beritahukan hasil pemeriksaan pada pasien dan keluarga

b. Lakukan observasi tanda – tanda vital dan pemeriksaan fisik

c. Atasi dehidrasi

d. Awasi perkembangan penyakit

e. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya

f. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan cairan anaknya

g. Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan fisik dan lingkungan di sekitar anaknya

h. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat

i. Beritahu ibu tentang tanda – tanda anak sakit



2. Implementasi

a. memberitahukan hasil pemeriksaan pada pasien dan keluarga bahwa pasien mengalami muntah – muntah dan dehidrasi ringan.

b. Melakukan observasi tanda – tanda vital dan pemeriksaan fisik

Tanda – Tanda Vital

Nadi : 90x / menit

Respirasi : 28x / menit

Suhu : 36,9 oC

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Lemah

Kesadaran : Composmentis

BB : 16 Kg

Muka : Kongjungtiva tampak pucat

Mulut : Mukosa bibir tampak kering dan lidah tampak kotor

Abdomen : Nyeri tekan (+), Hypertimpani (+) dan bising usus (+)

c. Mengatasi dehidrasi dengan cara pemberian cairan baik peroral maupun intravena. Pemberian cairan secara Intravena dengan IVFD RL + NSB.

IVFD RL : Rehidrasi = 50 tetes / menit, selama 3 jam

Maintanace = 8 tetes / menit

NSB : drip 1 ampul / hari

d. Mengawasi perkembangan penyakit

e. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anaknya, dengan cara :

- Menyediakan makanan yang lunak seperti bubur

- Makanan dikonsumsi dalam keadaan hangat untuk menghindari mual

- Makanan dikonsumsi dalam porsi kecil tapi sering

- Sediakan makanan kecil seperti biskuit, roti, kue atau buah

- Jangan menyediakan makanan yang berlemak dan berbau tajam

- Usahakan untuk menyediakan makanan yang bersih, sehat dan mengandung cukup karbohidrat, protein, vitamin, kalsium dan mineral.

f. Menganjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan cairan anaknya, yaitu dengan cara :

- Meminumkan air putih lebih banyak minimal 8 gelas / hari

- Air dapat disediakan dalam kondisi hangat untuk mencegah mual

- Air dapat disediakan dalam kondisi dingin untuk menyegarkan dahaga

- Selain air putih dapat juga disediakan air jeruk, air teh atau larutan oralit.



g. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan fisik dan lingkungan di sekitar anaknya, dengan cara :

- Cuci tangan sebelum makan dan sesudah BAK atau BAB

- Mandi minimal 2 kali sehari

- Gosok gigi minimal 2 kali sehari

- Menjaga kebersihan lingkungan

h. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian :

- IVFD RL 8 tetes / menit

- Drip NSB 1 ampul / hari

- Injeksi Invomit ( 2 x ampul )

- Injeksi Acran ( 2 x ampul )

- Injeksi Antrain ( 2 x mg )

i. Memberitahukan ibu tentang tanda – tanda anak sakit, yaitu:



- Rewel

- Kesadaran menurun

- Lemas

- Lemah

- Tidur terus

- Demam tinggi

- Tidak nafsu makan

- Malas

- Banyak diam

- Muntah




3. Evaluasi

a. Pasien dan keluarga mengetahui hasil pemeriksaan

b. Ibu mengerti dan bersedia melakukan apa yang telah dianjurkan

c. Observasi terus dilakukan setiap 7 jam setiap harinya









CATATAN PERKEMBANGAN





No.

Hari / Tanggal

Catatan Perkembangan


1.

Selasa

12 April 2011

S = Pasien mengatakan sudah tidak mual, muntah, demam tetapi masih nyeri pada perut

O =

- Tanda – Tanda Vital

Nadi = 90x / menit

Respirasi = 28x / menit

Suhu = 36,9 oC

- Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum = Lemah

Mulut = Mukosa bibir tampak kering dan lidah tampak kotor

Abdomen = Nyeri tekan (+), Hypertimpani (+) dan bising usus (+)

A = Observasi Vomiting belum teratasi

P =

- IVFD RL 8 tetes / menit

- Drip NSB 1 ampul / hari

- Injeksi Invomit ( 2 x ampul )

- Injeksi Acran ( 2 x ampul )

- Injeksi Antrain ( 2 x mg )


2.

Rabu

13 April 2011



S = Pasien mengatakan sudah tidak mual, muntah, demam dan tidak nyeri pada perut lagi

O =

- Tanda – Tanda Vital

Nadi = 88x / menit

Respirasi = 28x / menit

Suhu = 36,0 oC

- Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum = Baik

Mulut = Mukosa bibir tampak kering dan lidah tampak kotor

Abdomen = Nyeri tekan (-) dan Hypertimpani (-)

A = Observasi Vomiting sudah teratasi

P =

1. Pasien diizinkan pulang oleh dokter

2. Menganjurkan ibu untuk menjaga pola makan dan istirahat anaknya

3. Memberitahukan ibu untuk mengenali tanda – tanda anak sakit sejak dini, yaitu :

- Rewel

- Kesadaran menurun

- Lemas

- Lemah

- Tidur terus

- Demam tinggi

- Tidak nafsu makan

- Malas

- Banyak diam

- Muntah

Rabu, 29 Juni 2011

PONED

1.2 Pengertian
PONED merupakan kepanjangan dari Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar. Puskesmas dengan Pelayanan Obstetric Neonatal Essensial Dasar (PONED) yaitu adalah Puskesmas Rawat Inap yang memiliki kemampuan serta fasilitas PONED siap 24 jam untuk memberikan pelayanan kesehatan dan kasus-kasus kegawatdaruratan obstretrik dan neonatal tingkat dasar.  
Pelayanan ini diberikan terhadap ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi, baik yang datang sendiri atau atas rujukan kader, masyarakat atau bidan di desa - desa dari satu wilayah maupun desa yang merupakan bagian dari jaringan rujukan.  
Apabila kasus tidak mampu ditangani di Puskesmas PONED maka selanjutnya akan segera diberikan rujukan ke RS PONEK.  
1.2 Tujuan PONED  
Tujuan dari PONED adalah untuk menghindari rujukan yang lebih dari 2 jam dan untuk memutuskan mata rantai rujukan itu sendiri, sehingga pada tingkatan pelayanan primer mampu memberikan pertolongan kegawatdaruratan.  
Pertolongan pada kasus kegawatdaruratan obstetric neonatal secara tepat akan mempercepat penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Seperti telah diketahui bahwa penyebab terbanyak kematian ibu (90%) disebabkan oleh komplikasi obstetric, seperti pre-eklampsia / eklampsia, perdarahan, infeksi, dan partus macet.  
Untuk itulah PONED dilaksanakan sebagai program untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan bayi serta mengupayakan pelayanan tersebut sedekat mungkin pada ibu, termasuk ibu hamil.  

1.3 Upaya PONED  
Dengan demikian upaya PONED merupakan terobosan pelayanan kesehatan pada ibu supaya Pemerintah mampu mendekatkan pelayanan kegawatdaruratan obstetri sedekat mungkin pada masyarakat. Dengan cara itu pemerintah mampu mencegah keterlambatan dalam pertolongan dan keterlambatan dalam merujuk kasus-kasus kegawat daruratan obstetri dan neonatal.  
PONED juga dilakukan dalam rangka upaya pencapaian tiga pesan kunci Making Pregnancy Safer (MPS), yaitu:  
  1. Setiap persalinan harus ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih  
  2. Setiap komplikasi obstetri mendapat pelayanan oleh tenaga kesehatan terlatih dan  
  3. Setiap wanita subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran  
Oleh karenanya di dalam konsep PONED setiap tenaga kesehatan di unit pelayanan dasar, khususnya puskesmas rawat inap harus dapat memberikan pelayanan yang trampil dalam penanganan komplikasi obstetri dan neonatal yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.  
1.4 Wilayah Kerja PONED  
Wilayah kerja PONED adalah pada tingkat pelayanan primer atau Puskesmas induk di suatu desa atau suatu wilayah pemukiman yang padat penduduknya. Puskesmas yang ditunjuk untuk menjalankan PONED pun harus dapat memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku terlebih dahulu.  
Puskesmas PONED dijalankan dengan pengawasan Dokter. Petugas kesehatan yang boleh memberikan PONED di Puskesmas PONED adalah Dokter, Bidan, Perawat dan tim PONED Puskesmas beserta penanggung jawab terlatih.  
Dalam PONED Bidan hanya boleh memberikan :  
  1. Injeksi Antibiotika, Injeksi Uterotonika dan Injeksi Sedativa  
  2. Plasenta Manual  
  3. Ekstraksi Vacuum  

1.5 Syarat Puskesmas PONED  
Syarat Puskesmas PONED antara lain:  
  1. Pelayanan buka 24 jam  
  2. Mempunyai Dokter, bidan, perawat terlatih PONED dan siap melayani 24 jam  
  3. Tersedia alat transportasi siap 24 jam  
  4. Mempunyai hubungan kerjasama dengan Rumah Sakit terdekat dan Dokter Spesialis Obgyn dan spesialis anak.  
 Secara keseluruhan hal yang diperlukan pada Puskesmas PONED antara lain adalah :
1. Administrasi
a. Fasilitas kegawatdaruratan harus dikelola dan diselenggarakan sehingga sesuai dengan kebutuhan masyarakat
b. Penyelenggaraan unit gawat darurat harus didasarkan pada panduan pelayanan dan prosedur yang tertulis
c. Dokter dan bidan sebagai penanggungjawab unit, bekerjasama secara terpadu dan harus dapat memberikan jaminan pemantauan dan penilaian secara berkala dari kualitas, keamanan dan ketersediaan pelayanan kegawatdaruratan.
d. Setiap petugas kesehatan baru yang akan ditugaskan pada unit gawat darurat harus menjalani program orientasi secara formal yang menjelaskan tentang misi unit gawat darurat, standar prosedur pelayanan (standard operating procedurs) gawat darurat dan tanggung jawab masing-masing.
e. Setiap petugas unit gawat darurat harus selalu menjaga dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilannya secara professional agar dapat selalu memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien.
f. Tugas dan tanggung jawab dokter, bidan, perawat serta petugas kesehatan lain pada unit gawat darurat harus dijelaskan secara tertulis. Program menjaga mutu pelayanan harus dapat melakukan penilaian dan pemantauan setiap petugas unit gawat darurat secara berkala.
g. Sesuai dengan hukum, peraturan dan standar pelayanan yang ada, penyaringan untuk setiap pasien yang masuk untuk mendapatkan pelayanan harus dilakukan oleh seorang dokter, atau oleh bidan yang telah mendapatkan pelatihan khusus.
h. Penilaian dan stabilisasi pasien dengan kegawatdaruratan sampai pada tingkat yang optimal, harus tersediauntuk setiap pasien yang masuk dengan kegawatdaruratan medis.  
i. Dokter bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Tanggung jawab ini meliputi kemampuan medis untuk melakukan penilaian, menentukan diagnosis, dan pengobatan yang dianjurkan serta disposisi untuk pasien gawat darurat, termasuk pengarahan dan koordinasi pada semua unit pelayanan kesehatan yang terlibat dalam pemberian pelayanan. Seorang bidan yang terdaftar bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan penilaian, perencanaan dan evaluasi dampak dari pengobatan yang diberikan.  
j. Unit gawat darurat harus menyediakan registrasi terkontrol (controlled register) atau “log” untuk setiap pasien yang memerlukan perawatan kegawatdaruratan.  
k. Catatan medic yang sah dan sesuai harus dibuat untuk setiap pasien yang memerlukan perawatan kegawatdaruratan. Catatan medic harus tersimpan dalam format sesuai dengan kebutuhan hokum dengan baik, sehingga selalu mudah dicari pada saat dibutuhkan oleh petugas pelayanan kegawatdaruratan.  

2. Penugasan (Staffing)  
a. Petugas pelaksana pelayanan kegawatdaruratan yag memiliki kualifikasi dan terlatih denga baik secara professional, termasuk dokter, bidan dan perawat, merupakan staf unit gawat darurat selama waktu pengoperasiannya.
b. Dokter puskesmas memimpin secara langsung pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang dilaksanakan di puskesmas dan harus :  
· Memiliki sertifikat Pelayana Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED), life saving skills (LSS) atau kualifikasi lain yang sejenis.
· Memperlihatkan kemampuan dalam pengelolaan dan administrasi pelayanan klinik pada unit gawat darurat.
· Memiliki pengetahuan tentang operasionalisasi system kegawatdaruratan medic dan jaringan kegawatdaruratan medic regional.
· Memberikan jaminan bahwa staf unit gawat darurat memiliki kualifikasi dan telah medapatkan pendidikan / pelatihan yang sesuai.
c. Staf unit gawat darurat merupakan bagian dari proses administrasi umum dalam puskesmas. Dokter harus memiliki hak, kebebasan dan tanggng jawab yang sama dengan staf medis yang lain, seperti jenjang kategori yang tergambar dalam susunan organisasi puskesmas.
d. Dokter dan bidan yang bekerja harus mengikuti pelatihan, memiliki pengalaman dan kompetensi dalam pengelolaan dan pengobatan kasus dengan kegawatdaruratan untuk setiap pasien yang memerlukan pelayanan kegawatdaruratan sesuai dan tidak bertentangan dengan hak serta kewenangan masing-masing.
e. Setiap petugas yang melakukan pelayanan di unit gawat darurat harus :
· Membuktikan kemampuan sebelumnya pada unit gawat darurat atau telah mengikuti dan menyelesaikannprogram pendidikan kegawatdaruran.
· Mendemonstrasikan/membuktikan memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelenggarakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan yang ada.
f. Harus ada perencaan yang jelas untuk penyediaan tambahan tenaga medis pada saat ada kebutuhan mendadak atau bencana alam.  

3. Fasilitas
a. Puskesmas harus dirancang untuk memberikan lingkungan yang aman untuk memberikan pelayanan dan harus mampu membrerikan akses yang nyaman untuk setiap orang yang datang dan membutuhkan pelayanan.
b. Puskesmas harus dirancang untuk menjaga, sampai pada tingkat kewajaran maksimum sesuai kebutuhan medis, hak pasien untuk terjaga kerahasiaannya (visual and auditory privacy)
c. Pelayanan laboratorium sederhana harus tersedia selama periode waktu tertentu sebagai upaya penunjang untuk melaksanakan tes diagnostic bagi pasien yang membutuhkan.
d. Harus dirancang dan dilaksanakan prosedur keamanan yang akan memberikan perlindungan yang memadai dan sesuai bagi staf, pasien dan pengunjung/pengantar.  

4. Peralatan dan Bahan  
a. Harus terdapat peralatan dan bahan dengan kualitas baik dan sesuai dengan kebutuhan wajar pasien yang dikelola di puskesmas
b. Peralatan dan bahan yang diperlukan harus dapat tersedia dalam waktu singkat setiap saat.
c. Dapat dilakukan pembuktian pemeriksaan fungsi setiap peralatan pakai ulang (reusable medical equipment), dan hasil pemeriksaan harus didokumetasikan secara berkala  

5. Mekanisme Farmakologi/Terapeutik  
Obat yang diperlukan sesuai dengan Appendix 2 harus secara mudah dan selalu tersedia. Harus terdapat mekanisme untuk mengenali dan mengganti semua obat sebelum batas waktu pakainya (expiration date) berakhir.  

1.6 Indikator Kelangsungan Puskesmas PONED  
Indikator kelangsungan dari Puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar (PONED) adalah :  
  1. Kebijakan tingkat Puskesmas  
  2. SOP (Sarana Obat Peralatan)  
  3. Kerjasama RS PONEK  
  4. Dukungan Diskes  
  5. Kerjasama SpOG  
  6. Kerjasama Bidan Desa  
  7. Kerjasama Puskesmas Non PONED   
  8. Pembinaan AMP (Audit Maternal Perinatal) 
  9. Jarak Puskesmas PONED dengan RS  

1.7 Tugas PONED  
Tugas Puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar (PONED) :  
  1. Menerima rujukan dari fasilitas rujukan di bawahnya, Puskesmas pembantu dan Pondok bersalin Desa
  2. Melakukan pelayanan kegawatdaruratan obstetrik neonatal sebatas wewenang  
  3. Melakukan rujukan kasus secara aman ke rumah sakit dengan penanganan pra hospital.  
Puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar (PONED) memiliki kemampuan untuk menangani dan merujuk berbagai kasus, antara lain :  
  1. Hipertensi dalam kehamilan (Preeklampsia, Eklampsia)
  2. Tindakan pertolongan Distosia Bahu dan Ekstraksi Vakum pada Pertolongan Persalinan  
  3. Perdarahan Post Partum
  4. Infeksi Nifas
  5. BBLR dan Hipotermi, Hipoglekimia, Ikterus, Hiperbilirubinemia, masalah pemberian minum pada bayi
  6. Asfiksia pada bayi  
  7. Gangguan nafas pada bayi 
  8. Kejang pada bayi baru lahir  
  9. Infeksi Neonatal  
  10. Persiapan umum sebelum tindakan kedaruratan Obstetri – Neonatal antara lain Kewaspadaan Universal Standar.  

1.8 Hambatan dan Kendala PONED  
Hambatan dan kendala dalam penyelenggaraan Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar (PONED) antara lain yaitu :  
  1. Mutu SDM yang rendah 
  2. Sarana prasarana yang kurang  
  3. Ketrampilan yang kurang
  4. Koordinasi antara Puskesmas PONED dan RS PONEK dengan Puskesmas Non PONED belum maksimal  
  5. Kebijakan yang kontradiktif (UU Praktek Kedokteran)  
  6. Pembinaan terhadap pelayanan emergensi neonatal belum memadai


Thanks to : 
Semua Anggota Kelompok II

PENDEKATAN KLINIK PROGRAM KB

Salah satu persoalan besar yang dihadapkan kepada dunia adalah masalah kependudukan. Berbagai literatur yang ada menunjukkan, bahwa jumlah penduduk dunia memperlihatkan grafik naik yang sangat pesat. Sudah barang tentu, jumlah penduduk yang besar ini merupakan potensi sumber daya manusia yang sangat berarti. Namun demikian, tanpa adanya kebijakan yang komprehensif, yang berperan sebagai mekanisme kontrol untuk mengatur tingkat pertumbuhan penduduk, kenaikan yang pesat itu, karena faktor-faktor sosiologis, ekologis, ekonomis, maupun politis, justru akan menghambat proses pembangunan kependudukan yang baik. Hal ini dapat terjadi, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. 
Sama seperti negara-negara lain, Indonesia juga dihadapkan pada masalah kependudukan. Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar, negeri ini tidak terlepas dari persoalan-persoalan yang dapat ditimbulkan oleh tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi. Lebih dari itu, dapat dikatakan bahwa situasi kependudukan di wilayah alam Nusantara ini, baik dilihat dari segi tingkat pertumbuhan, pesebaran, kepadatan, maupun struktur umur, relatif kurang menguntungkan. 
Variabel tingkat pertumbuhan penduduk berkaitan erat dengan kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan warganya secara kuantitatif dan kualitatif. Tanpa pengelolaan yang baik, hal ini akan berkembang menjadi beban yang tidak ringan bagi pemerintah, khususnya dalam hal menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar yang diperlukan oleh rakyat. 
Mengikuti logika berfikir Malthus, yaitu bahwa tingkat pertumbuhan penduduk berjalan relatif lebih cepat dari proses penyediaan sumber daya (resources) yang dibutuhkan, maka jelas bahwa tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi dapat menimbulkan persoalan-persoalan yang tidak sederhana. 
Kelahiran Pemerintah Orde Baru yang berorientasi pada pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat memberikan perhatian serius terhadap masalah kependudukan ini. Pemerintah Orde Baru menyadari bahwa untuk dapat mencapai masyarakat Indonesia yang sejahtera secara merata terlebih dahulu harus dapat menciptakan dan meningkatkan kehidupan materiil yang layak sebagai dasar untuk mengembangkan kehidupan sepiritualnya. Agar kebutuhan materil (pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja) dapat terpenuhi, pertumbuhan penduduk tidak boleh lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini berarti pertumbuhan penduduk perlu dikendalikan, mengingat kemampuan negara dan tersedianya sumber-sumber sangat terbatas. 
Selain kependudukan, angka kematian ibu di Indonesia juga menjadi masalah. Angka kematian Ibu sempat mencapai angka antara 700 sampai 800 per 100.000 kelahiran, dibanding dengan sekitar 3 – 7 per 100.000 kelahiran di negara-negara maju. Kematian ini disebabkan karena ibu-ibu Indonesia mengandung dan melahirkan pada usia terlalu muda, kurang persiapan semasa remaja, terlalu sering, tidak mendapat pengawasan dan perawatan selama mengandung atau sudah terlalu tua masih mengandung dan melahirkan.
Melihat hal itu berlalu tanpa upaya pencegahan yang berarti, para ahli kebidanan dan penyakit kandungan serta kelompok peduli lain tergerak hatinya dan melakukan langkah-langkah awal yang signifikan. Mereka menyatu, bertekad dan berusaha membantu para ibu dan keluarganya dengan advokasi dan upaya peningkatan pengetahuan ibu-ibu tentang reproduksi sehat. Kelompok itu berusaha memberikan pelayanan kebidanan yang makin meluas di masyarakat. Gerakan itu dimulai sekitar tahun 1950-1960 yang sekaligus merupakan awal dari upaya besar-besaran menolong keluarga Indonesia, menyelamatkan para ibu dan keluarganya melalui program KB. 

A. Pendekatan Secara Klinik pada Program Pelayanan KB 
Program KB pertama kali digerakkan secara resmi di Indonesia pada Pelita I (1969/1970-1973/1974). Pada tahun 1970, arah kebijakan program KB lebih ditekankan kepada perluasan jangkauan. Pada dimensi perluasan jangkauan ini, strategi pelaksanaannya adalah melalui pendekatan ke wilayah yang bertujuan untuk memperkenalkan dan memasyarakatkan normakeluarga kecil bahagia dan sejahtera kepada masyarakat secara keseluruhan. 
Pada tahap ini, Keluarga Berencana diperkenalkan dengan tujuan dapat diterima oleh seluruh komponen bangsa, baik oleh unsur pemerintah, unsur tokoh masyarakat maupun oleh masyarakat itu sendiri. 
Karena sifat pendekatan seperti itulah maka operasional di klinik lapangan lebih diwarnai dengan gencarnya kampanye KB melalui berbagai pendekatan individual, kelompok dan massa dengan memanfaatkan berbagai media dan forum komunikasi yang ada dalam masyarakat maupun media dan forum yang diciptakan oleh pemerintah. 
Pada tahap ini prakarsa lebih banyak diambil oleh pemerintah / petugas. Sasaran langsung operasional yang ingin dicapai pada tahap ini adalah mengajak pasangan usia subur sebanyak-banyaknya agar menjadi peserta KB baru. Sedangkan sasaran tidak langsung adalah ide keluarga berencana dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. 
Pada periode ini tantangan terhadap ide keluarga berencana (KB) masih sangat kuat, pendekatan melalui kesehatan adalah hal yang paling tepat dilakukan karena mudah diterima oleh banyak orang. Sehingga hampir seluruhnya pendekatan yang dilakukan adalah dengan pendekatan klinik (Clinical Approach). 
Pendekatan Klinik yang dimaksud adalah dengan menggelar pelayanan medis dan KB untuk para ibu di Klinik - klinik Ibu dan Anak milik jajaran Departemen Kesehatan. Dengan pendekatan itu para ibu, yang umumnya datang ke klinik memeriksakan anak balitanya dijadikan sasaran utama untuk diperkenalkan pada program KB. Ibu - ibu itu mendapat petunjuk tentang bahaya mengandung dan melahirkan yang terlalu sering, serta dianjurkan melakukan pencegahan dengan mengikuti program KB. Apabila Ibu itu sepakat, segera dilayani KB dengan diberikan kontrasepsi secara cuma - cuma. 
Dalam perkembangannya kemudian, kegiatan dengan pendekatan klinik itu memerlukan fasilitas pelayanan yang lebih luas dan memerlukan pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk kesehatan diri seseorang dan keluarganya. 
Pendekatan klinik yang kemudian dilakukan itu adalah berupa : 
     1. Klinik Keluarga Berencana Statis
Sarana utama untuk melayani pelaksanaan keluarga berencana adalah terse­dianya klinik - klinik Keluarga Berencana yang dengan mudah dapat dicapai oleh masyarakat banyak. Di samping memberikan pelayanan untuk pelaksanaan Ke­luarga Berencana, klinik - klinik tersebut sekaligus memberikan pelayanan pula untuk meningkatkan kesehatan, khususnya bagi ibu dan anak. Dalam rangka kegiatan ini tercakup pula kegiatan untuk perbaikan gizi. 
Dengan demikian klinik - klinik keluarga berencana pada hakekatnya sekaligus merupakan sarana utama pula bagi peningkatan kesejahteraan rakyat pada umumnya.Klinik keluarga berencana pada dasarnya adalah Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak (BKIA) yang memberikan pelayanan keluarga berencana dan pada umumnya diintegrasikan ke dalam Puskesmas. 

     2. Team Medis Keliling (TMK) 
Bagi daerah yang agak terpencil sehingga penduduknya tidak dapat dicapai oleh klinik keluarga berencana, pelayanan dila­kukan oleh Team Medis Keliling Keluarga Berencana. 

     3. Program Keluarga Berencana Rumah Sakit (PKBRS) 
Kepada ibu yang baru melahirkan di rumah sakit, atau klinik bersalin, dilakukan pendekatan khusus. Pendekatan ini dimaksudkan agar ibu yang baru melahirkan tersebut dapat memperoleh pelayanan langsung pada waktunya. 
Terhadap ibu-ibu yang melahirkan di luar rumah sakit (klinik bersalin), misalnya melahirkan di rumah sendiri, dilakukan pula "pendekatan khusus", sehingga ibu yang ber sangkutan langsung memperoleh pelayanan keluarga beren- cana pada waktunya. 
Pendekatan secara klinik ini berlangsung sampai tahun 1974. Pendekatan Klinik nampaknya mempunyai dampak yang kurang menguntungkan dan mempunyai hambatan yang tidak kecil. 
Pada masa itu para ibu jarang sekali datang ke klinik untuk memeriksakan dirinya. Ibu mengandung yang datang di klinik biasanya hanya kalau mempunyai masalah dengan kandungannya. Umumnya kedatangan mereka sudah sangat terlambat, sehingga banyak yang tidak dapat ditolong lagi. Aspek-aspek sosiopsikologis pun kurang mendapat perhatian, sehingga faktor-faktor sosial budaya yang banyak menghambat untuk dapat diterimanya ide KB tidak mendapatkan perhatian secara wajar.


Spesial Thanks to : 
Kelompok IV 
(Rusnita Fitriah, Ayu Bintari & Nurliani)

PRESENTASI GANDA

A. Definisi
Presentasi ganda ialah keadaan dimana di samping bagian terendah janin teraba anggota badan, antara lain dijumpai tangan, lengan atau kaki, atau keadaan dimana di samping bokong janin dijumpai tangan. Presentasi ganda tidak termasuk presentasi bokong-kaki, presentasi bahu, atau prolaps tali pusat.
Menurut Harry Oxorn & William R Forte yang diedit oleh Dr. M. Hakimi, Ph. D dalam buku Patologi & Fisiologi Persalinan, presentasi ganda atau majemuk adalah bila ada satu atau lebih anggota badan menumbung bersama dengan kepala atau bokong, keduanya bersama-sama masuk ke dalam panggul. Presentasi bokong kaki dan presentasi bahu tidak dimasukkan ke dalam golongan ini. Tali pusat menumbung menyertai keadaan ini pada 15 sampai 20 persen kasus.
Sedangkan menurut Morton A. Stenchever dan Tanya Sorensen yang dialih bahasakan oleh dr. Chrisdiono M. Achadiat, pada buku Penatalaksanaan Dalam Persalinan, suatu “presentasi rangkap” (compound presentastion) yang menunjukkan adanya lengan atau tangan di depan bersama-sama dengan verteks.
Pada buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal oleh Sarwono Prawirohardjo, presentasi ganda (majemuk) terjadi bila ekstremitas (bagian kecil janin) prolaps di samping bagian terendah janin.
Lalu menurut Sarwono Prawirohardjo dalam bukunya yang berjudul Ilmu Kebidanan, presentasi ganda ialah keadaan dimana disamping kepala janin di dalam rongga panggul dijumpai tangan, lengan atau kaki, atau keadaan dimana disamping bokong janin dijumpai tangan. Presentasi ganda jarang ditemukan, yang paling sering diantaranya ialah adanya tangan atau lengan disamping kepala.

B. Etiologi
Presentasi ganda dapat terjadi apabila bagian terendah janin tidak menutupi PAP dengan sempurna. Menurut Harry Oxorn, etiologi presentasi ganda meliputi semua keadaan yang menghalangi pengisian dan penutupan PAP sepenuhnya oleh bagian terendah janin. Faktor penyebab yang paling umum adalah prematuritas. Yang lain adalah bagian terendah yang tinggi disertai pecahnya ketuban, multiparitas, panggul sempit, dan bayi kembar.
Dan menurut Sarwono Prawirohardjo yang memiliki pendapat yang tidak berbeda yakni, presentasi ganda terjadi karena pintu atas panggul tidak tertutup sempurna oleh kepala atau bokong, misalnya pada seorang multipara dengan perut gantung, pada kesempitan panggul dan janin yang kecil.
Faktor yang meningkatkan kejadian presentasi ganda (majemuk) antara lain :
1. Prematuritas
2. Multiparitas
3. Panggul sempit
4. Kehamilan ganda
5. Pecahnya selaput ketuban dengan bagian terendah janin yang masih tinggi

C. Klasifikasi Presentasi Ganda
Presentasi ganda yang sering terjadi adalah kombinasi kepala-tangan (hanya teraba jari dan telapak tangan di samping kepala) atau kepala-lengan (teraba jari,telapak, dan pergelangan tangan di samping kepala) dan jarang terjadi kaki-kepala atau tangan-bokong.
Klasifikasi presentasi ganda (majemuk), menurut Harry Oxorn yaitu :
1. Presentasi kepala dengan bagian yang menumbung berupa :
    a. Tungkai atas ( lengan – tangan ) salah satu atau keduanya.
    b. Tungkai bawah ( tungkai –kaki ) salah satu atau keduanya.
    c. Lengan dan kaki bersama – sama.
2. Presentasi bokong dengan tangan atau lengan yang menumbung.
Kombinasi yang paling sering dijumpai adalah kepala dengan tangan atau lengan. Sebaliknya kombinasi kepala – kaki dan bokong – lengan sama – sama jarang ditemui. Penumbungan baik tangan dan kaki bersama - sama di samping kepala adalah jarang. Semua kombinasi dapat disertai tali pusat yang juga menumbung dan dengan ini kemudian menjadi masalah yang penting.

D. Diagnosis
Presentasi majemuk dapat dideteksi dengan terjadinya kelambatan kemajuan persalinan pada persalinan kala I fase aktif, atau bagian terendah janin (kepala atau bokong) tidak dapat masuk panggul terutama setelah ketuban pecah. Diagnosis presentasi majemuk ditegakkan melalui periksa dalam.
Diagnosis presentasi majemuk menurut Harry Oxorn dibuat dengan pemeriksaan vaginal (Pemeriksaan Dalam). Seringkali baru diketahui setelah persalinan lanjut dan pembukaan lengkap.
Menurut Sarwono Prawirohardjo, diagnosis berdasarkan pemeriksaan luar sulit ditemukan, sedangkan pada pemeriksaan dalam, disamping kepala atau bokong dapat diraba tangan, lengan atau kaki. Kemungkinan pada pemeriksaan dalam teraba juga tali pusat menumbung, yang sangat mempengaruhi prognosis janin.

E. Mekanisme Persalinan
Mekanisme persalinan presentasi ganda (majemuk) menurut Harry Oxorn adalah mekanisme persalinan presentasi pokoknya. Oleh karena diameternya lebih besar, kemungkinan terhambatnya kemajuan persalinan lebih besar. Pada kebanyakan kasus persalinan tidak terhambat dan bagian terendah terdorong ke bawah menuju PAP. Bila terjadi distokia, janin tetap tinggi, diperlukan tindakan operatif.
Dan menurut Sarwono Prawirohardjo, pada presentasi ganda pada umumnya tidak ada indikasi untuk mengambil tindakan, karena pada panggul uuran normal, persalinan dapat spontan pervaginam. Akan tetapi apabila lengan seluruhnya menumbung disamping kepala, sehingga menghalangi turunnya kepala, dapat dilakukan reposisi lengan.

F. Penanganan Presentasi Majemuk
Kelahiran spontan pada persalinan dengan presentasi ganda hanya dapat terjadi apabila janin sangat kecil, janin mati yang sudah mengalami maserasi (pelunakan karena terendam cairan amnion), dan apabila terjadi reposisi spontan.
Untuk menangani presentasi ganda dimulai dengan menetapkan adanya prolaps tali pusat atau tidak. Apabila tidak ada prolaps tali pusat, maka dilakukan pengamatan kemajuan persalinan. Jika kemajuan persalinan baik, yaitu pada fase aktif pembukaan serviks 1cm/jam pada primigravida dan 2cm/jam pada multigravida umumnya akan terjadi reposisi spontan dan pertolongan persalinan pervaginam sebagaimana mestinya.
Meskipun biasanya keadaan Presentasi Ganda dapat terkoreksi sendiri selama perjalanan persalinan, namun risiko prolaps tali pusat meningkat seperti halnya pada presentasi bukan verteks. Prolaps tali pusat ditangani dengan menaikkan bagian terdepan (presenting-part) untuk mencegah kompresi tali pusat, sementara itu menyiapkan seksio sesarea secepatnya. Sebagian besar dari presentasi rangkap dilahirkan melalui vagina tanpa dilakukan intervensi.
Kemudian pada Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal oleh Sarwono Prawirohardjo, persalinan spontan pada presentasi ganda hanya bisa terjadi jika janin sangat kecil atau mati dan maserasi.
Lengan yang mengalami prolaps kadang-kadang dapat diubah posisinya dengan membantu ibu untuk mengambil posisi knee-chest, sorong tangan keatas ke luar dari simfisis pubis dan pertahankan di sana sampai timbul kontraksi kemudian dorong kepala masuk ke dalam panggul. Lanjutkan dengan penatalaksanaan untuk persalinan normal.
Jika reposisi ini tidak berhasil atau terjadi prolaps tali pusat maka ibu harus segera dirujuk dengan cara :
a. Baringkan ibu dengan posisi lutut menempel ke dada atau berbaring miring ke kiri
b. Segera rujuk ibu ke fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan penatalaksanaan gawat darurat obstetri dan bayi baru lahir
c. Dampingi ibu ke tempat rujukan. Berikan dukungan dan semangat.

Presentasi ganda dengan adanya prolaps tali pusat dan gagalnya reposisi perlu dirujuk karena dapat menimbulkan keadaan emergensi bagi ibu dan janin, seperti :
a. Hipoksia
Adanya presentasi ganda yang disertai prolaps tali pusat sangat beresiko menyebabkan hipoksia karena tali pusat yang prolaps tersebut dapat mengganggu pengeluaran janin dan besar resiko akan terjepit oleh penurunan tubuh janin sehingga menghambat sirkulasi oksigen ke janin.
b. Partus lama
Prolaps tali pusat dan kegagalan reposisi akan memperlambat kemajuan persalinan.
c. Gawat janin
Presentasi ganda yang disertai adanya prolaps tali pusat bisa menyebabkan fetal distress yang ditandai dengan abnormalitas DJJ, yaitu < 100 kali per menit atau > 180 kali per menit
d. Maternal distress
Persalinan yang lama dapat menyebabkan ibu kehabisan tenaga dan syok, hal itu pun bisa mempengaruhi kondisi psikologis ibu.
e. Rupture perineum derajat 3 dan 4
f. Perdarahan
g. Trauma pada janin
Presentasi ganda dapat menyebabkan trauma pada janin, seperti terjadinya fraktur jika bagian tubuh yang menyertai bagian terendah janin gagal direposisi.

Menurut Sarwono Prawirohardjo, apabila pada presentasi ganda ditemukan prolapsus funikuli, maka penanganan bergantung pada kondisi janin dan pembukaan serviks. Bila janin dalam keadaan baik dan pembukaan belum lengkap sebaiknya dilakukan seksio sesarea, sedangkan bila pembukaan lengkap, panggul mempunyai ukuran normal pada multipara, dapat dipertimbangkan untuk melahirkan janin pervaginam. Dalam keadaan janin sudah meninggal, diusahakan untuk persalinan spontan, sedangkan tindakan untuk mempercepat persalinan hanya dilakukan atas indikasi ibu.
Penanganan paling baik menurut Harry Oxorn untuk presentasi majemuk (tanpa komplikasi seperti tali pusat menumbung) adalah menunggu dengan penuh perhatian. Pada kebanyakan kasus setelah pembukaan menjadi lengkap dan bagian terbawah turun, lengan atau kaki yang menumbung naik keluar dari panggul sehingga memungkinkan persalinan maju, tidak perlu dilakukan tindakan apa – apa.
Untuk persalinan terhambat dengan komplikasi :
1. Reposisi bagian yang menumbung
Pada panggul normal bila kemajuan persalinan terhambat lengan atau kaki harus dikembalikan, dibawah anastesi, dan kepala didorong masuk panggul. Bila kepala sudah turun jauh di dalam panggul dan pembukaan lengkap, kepala dikeluarkan dengan forceps
2. Sectio Caesarea
Dilakukan sectio caesarea bila ada disproporsi kepala panggul, bila reposisi tidak dapat dilakukan atau tidak berhasil, atau bila ada beberapa keadaan lain yang merupakan kontra indikasi persalinan pervaginam
3. Versi Ekstraksi
Cara ini mengandung bahaya ruptura uteri dan kematian janin, oleh karena itu hanya digunakan dalam penanganan presentasi majemuk tanpa komplikasi. Perkecualian adalah anak kedua bayi kembar.

Pada 12 sampai 23 persen kasus presentasi majemuk ada komplikasi tali pusat menumbung. Ini kemudian menjadi masalah yang besar dan penting sehingga penanganannya ditujukan terutama pada tali pusat yang menumbung.
Dalam memilih cara penanganan maka diperhatikan faktor – faktor sebagai berikut :
1. Presentasi
2. Ada tidaknya tali pusat menumbung
3. Keadaan ketuban
4. Keadaan cerviks
5. Keadaan dan ukuran bayi
6. Adanya bayi kembar