JuLie ZonE



"Dunia, tempat, dan ruang yang hanya ada aku...."


It's Me...
My Word..
My Mine..
My Everything...

Minggu, 19 Juni 2011

MISS ACACIA

Setiap sore aku selalu berada di sini, di balkon lantai dua sekolahku. Dari balkon ini dapat kulihat seorang gadis yang selalu tidur di bawah pohon akasia yang tumbuh besar di taman belakang rumah sakit yang bersebelahan dengan sekolahku. Seperti hari ini, setelah pulang sekolah aku segera pergi ke tempat favoritku itu. Sambil mengunyah roti coklat yang kubeli di kantin, aku duduk disamping pagar balkon dan menuggu gadis itu datang. Tak lama kemudian, seorang gadis yang mengenakan gaun biru keluar dari pintu belakang rumah sakit dan duduk di bawah naungan pohon akasia. Melihatnya perutku terasa melilit, nadiku berdenyut dua kali lebih cepat, jantungku berdegup kencang dan adrenalinku mengalir lebih deras. Aku yakin dia adalah gadis itu, gadis yang kunamai Misa alias ”Miss Acacia” karena dia selalu tidur di bawah pohon akasia.

Aku senang melihat rambut panjang Misa yang menutupi wajahnya saat dia tertidur, entah kenapa dia jadi terlihat amat manis di mataku. Waktu aku sedang asyik memperhatikannya, tiba-tiba saja dia membuka mata dan memandang ke arahku. Aku terkejut, sehingga tanpa pikir panjang aku segera turun dari balkon dan langsung pulang ke rumah.

.....♣.....

Gara-gara insiden ”kepergok” itu, aku jadi merasa salah tingkah sendiri. Padahal kan belum tentu Misa menyadari kalau selama ini aku suka memperhatikannya. Tapi, kalau dia sampai tahu. Waduh... bisa-bisa aku disangka stalker dan itu pasti bakal bikin aku malu banget! Karena itu, sore ini aku bermaksud untuk langsung pulang ke rumah, seperti yang udah aku lakuin beberapa hari ini. Tapi, saat aku ingin mengambil motorku di parkiran, seseorang dengan wajah yang tertutup lembaran kertas koran malah asyik tertidur di atas motorku.

”Woi! Ngapaen loe tidur di atas motor gue?” bentakku kasar.

Orang itu sepertinya kaget banget mendengar bentakkanku, dia langsung terbangun dan jatuh dengan sukses dari atas jok motor. Ketika dia bangkit berdiri dan mengangkat mukanya, malah aku yang giliran kaget. Surprise! Ternyata orang yang kubentak itu adalah Miss Acacia. Aku sampai pangling dibuatnya, soalnya seumur-umur baru kali ini aku melihat Misa mengenakan celana jeans dan t-shirt.

”Misa?” kataku tanpa sadar saking kagetnya.

Mendengar perkataanku Misa menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang dan kemudian menatapku bingung.

”Kamu bicara sama aku ya?” tanyanya.

Aku langsung menepuk keningku dan mengucapkan sumpah serapah dalam hati. ”Goblok banget sih gue, ngapaen juga gue manggil dia Misa? Ya jelas dia kagak tahu. La... itu aja bukan namanya.” Aku meringis dan menggaruk-garuk kepalaku.

”Sorry, gue cuma asal aja…!” kataku sambil membungkuk-bungkukkan badan.

”Seharusnya aku yang minta maaf, karena udah seenaknya tidur diatas motormu,” kata Misa sopan.

”Oh? No problem kok.” jawabku.

Misa mengulurkan tangannya ke arahku, terlihat bekas sayatan di pergelangan tangan kanannya.

”Kenalkan, namaku Emyle Larasati. Tapi, kalau kamu lebih suka memanggilku dengan nama...em... Sasa? ...Mita? Apa sih katamu tadi?”

”Misa.” jawabku cepat.

”Ah...iya Misa! Nama itu juga tidak apa-apa kok.”

Aku menjabat tangan Misa dan memperkenalkan diriku

.”Okay. It’s a deal! Kenalin, gue Dafi. Lengkapnya Dafi Ramadhan, gue masih single alias jomblo.”

Misa meneliti wajahku dan kemudian berkata, ”Sepertinya aku pernah liat kamu deh... Kamu tuh orang yang setiap sore sering duduk di balkon sekolah kan?”

Aku terdiam. ”Waduh! Gawat neh, ternyata gue ketahuan. Aduh… sial banget sih gue!” Rutukku dalam hati sambil nyengir kuda. ”Iya, itu emang gue. Loe juga kan? Gue sering liat loe dibawah pohon akasia yang ada di belakang rumah sakit.” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

”Ha? E’eh, itu memang aku. Kebetulan banget ya... kayak udah jodoh aja” canda Misa sembari tertawa.

.....♦.....

Sejak saat itu aku berteman akrab dengan Misa. Setiap hari, aku rela memanjat pagar tembok rumah sakit, hanya untuk menemui Misa yang menungguku di bawah pohon akasia. Misa sering menceritakan semua tentang dirinya padaku, entah itu tentang masa kecilnya, keluarganya, masalah ketidakcocokannya dengan ayahnya atau penderitaannya yang diisolir di rumah sakit, sampai harus kabur diam-diam hanya untuk jalan-jalan. Aku juga sering menceritakan masalahku kepadanya, tentang kekejaman ibu tiriku, kegemaran ayahku memukuliku dan mengenai penyakit insomnia yang kuderita.

Semakin lama aku berteman dengan Misa, dengan segala kesamaan di antara kami berdua, aku merasa perasaan suka dan sayangku padanya semakin bertambah besar dan menjelma menjadi cinta. Cinta yang menurut guruku adalah reaksi biokimia yang terjadi karena adanya rangsangan bawah sadar manusia yang dipengaruhi oleh hormon oksitoksin dan hormon feromon, dengan tujuan untuk mempunyai keturunan. Apapun arti cinta itu untuk orang lain, tapi bagiku cinta itu adalah perasaan yang selalu kurasakan saat aku bersama Misa.

Pernah suatu malam aku nekat mengajak Misa pergi diam-diam dari rumah sakit. Aku tidak menyesal melakukannya, karena Misa terlihat sangat bahagia, tawa selalu menghiasi wajahnya saat aku membawanya mengunjungi Pasar Malam. Aku memberinya sebuah boneka beruang dan aku menyatakan perasaan cintaku padanya, tepat pada saat keranjang bianglala yang kami naiki berada di puncaknya. Aku sangat bahagia karena dia mau menerima perasaanku dan bersedia menjadi kekasihku. Miss Acacia yang selalu kukagumi dan kuperhatikan akhirnya bisa menjadi milikku.

.....♣.....

Tak terasa sudah dua bulan lebih aku dan Misa berpacaran diam-diam, tapi aku tetap tidak mengetahui apa penyakit yang Misa derita. Hingga pada suatu malam, Misa tiba-tiba menghubungiku. Dia memintaku untuk menjemputnya di gerbang depan sekolah, dari suaranya yang terdengar ngos-ngosan aku yakin Misa melarikan diri dari rumah sakit. Saking khawatirnya pada Misa, aku sampai mengacuhkan ayahku dan melarikan motorku secepatnya meninggalkan rumah. Sesampainya disana, aku segera menghampiri Misa yang berdiri di pojokan gerbang.

”Misa? Apa yang terjadi?” tanyaku.

Misa yang memanggul tas ransel dipundaknya segera memelukku erat dan berkata, ”Tolong aku Daf. Bawa aku pergi dari sini, aku sudah tidak sanggup lagi terkurung di rumah sakit.”

”Iya, Sa... Gue akan bawa loe pergi dari sini.” kataku menenangkannya.

Saat itu juga aku membawa kabur Misa. Dengan uang secukupnya yang kuambil dari ATM, aku mengajaknya pergi ke Kota Baru, jauh dari ayahnya, jauh dari rumah sakit yang telah memenjarakannya. Kami menginap di sebuah losmen dan hidup seadanya, setiap hari aku mengajaknya bersenang-senang dengan pergi ke tempat-tempat wisata.

Tapi beberapa hari terakhir ini Misa terlihat murung dan gelisah, aku ingin membuatnya gembira. Karena itu, malam ini aku mengajaknya melihat pemandangan indah dari atap gedung pencakar langit.

”Daf, apakah kamu mencintaiku?” tanya Misa, saat kami sedang asyik melihat pemandangan malam dari atap gedung.

Aku melepaskan jaketku dan mengenakannya ke tubuh Misa yang terlihat kedinginan. Dari belakang, aku memeluk tubuh Misa dan mengelus pelan kepalanya. Tercium di hidungku aroma tubuh Misa yang memabukkan, seperti zat euforia dalam bunga opium yang bisa membuat kecanduan.

”Tentu aja gue cinta ama loe, cinta mati malah. Masa loe gak percaya sih?” kataku lembut di telinganya.

”Bener kamu cinta mati padaku?”

”Suer deh! Gue ga bo’ong.” jawabku.

”Kalau gitu... buktiin Daf.”

Misa berbalik dan memeluk tubuhku erat. Tiba-tiba kurasakan perutku perih dan sakit. Aku mendorong tubuh Misa menjauh dari tubuhku, aku melihat sebuah pisau lipat yang berlumuran darah di genggaman tangannya.

”Misa..... Apa? Apa yang loe lakuin?” rintihku kesakitan sambil memegang perutku, darah merembes keluar dari kemajaku yang sobek.

”Kenapa loe lakuin ini ke gue?” tanyaku lagi saking shocknya.

”Aku melakukan ini karena aku mencintaimu Daf.” kata Misa pelan sembari mendekatiku, jemarinya yang dingin menyentuh wajahku.

”Omong kosong! Kalau loe cinta ama gue. Kenapa loe nusuk gue?” teriakku, aku melangkah mundur, menghindari Misa yang terus mendekat.

”Aku mencintaimu Daf, karena itu aku ingin kamu bahagia.” jawab Misa sambil terus mencoba melukaiku dengan pisau di tangannya.

”Loe bohong! Loe mau bunuh gue kan?”

Aku terus mundur menjauhi Misa, hingga punggungku menyentuh pagar kawat pelindung yang mengelilingi atap.

”Aku ingin kamu bahagia Daf, karena itu aku melakukan ini. Kalau terus hidup tersiksa di dunia yang kejam ini, kamu pasti hancur, Daf. Karena itu aku akan mengakhiri penderitaanmu. Kamu akan bahagia untuk selamanya, tidak perlu lagi mendengarkan cacian ibumu, merasakan pukulan ayahmu dan kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan insomniamu, karena kamu akan tidur untuk selamanya.”

Misa menarik kemejaku dan menikamkan pisau lipat di genggamannya ke dada kiriku.

”Aaargh....” erangku kesakitan.

Aku menyandarkan tubuhku di pagar, pisau yang menancap di dadaku terasa panas dan menyakitkan.

”Misa..... kalau loe butuh bukti atas cinta gue.... bukan kayak gini caranya,” kataku lagi.

”Tidak! Aku melakukan ini karena aku mencintaimu Daf.”

Air mata jatuh berlinang di pipi Misa, namun senyuman terus menghiasi wajahnya. Entah kenapa, ketakutan dan perasaan ngeri tiba-tiba saja menyergap hatiku, rasanya aku seperti terkena klaustrofobia. Padahal aku sedang berada di tempat yang luas dan terbuka tanpa sekat sedikit pun.

”Misa.... elo.... elo nggak... cinta sama... gue!” kataku terbata.

Tubuhku terasa berat, sakit yang luar biasa terasa membakar perut dan dadaku, kepalaku pusing dan pandanganku pun terasa berputar-putar.

Tiba-tiba beberapa lelaki berpakaian putih keluar dari arah pintu masuk dan berlari menghampiri kami sambil berteriak, ”Tangkap gadis itu! Dia adalah Emyle, gadis yang menderita gangguan jiwa.”

”Gawat. Tampaknya pemuda itu telah menjadi korban Emyle.” kata seseorang di antara mereka.

Aku menatap Misa. Miss Acaciaku itu tersenyum dan mendorong tubuhku dengan kuat. Tiang pagar yang sudah lapuk tidak mampu menyangga tubuhku sehingga akhirnya patah, membuatku limbung dan kehilangan pijakan. Aku jatuh dari atap, terjun bebas tanpa memakai pelindung apapun langsung menuju tanah.

”Misa... ternyata penyakit loe emang benar-benar parah. Ha..haa..ha... gue baru tahu kalau loe sakit jiwa... loe gila... loe ga waras... loe psikopat.... Gue udah ketangkap ama loe Miss Acacia. Loe sama aja kayak pohon akasia besar yang terlihat menyejukkan, tapi sebenarnya menyimpan kekejaman yang mengerikan...” bisikku.

Perlahan aku menutup mata dan terus merintihkan nama Misa. Tidak lagi kurasakan perih yang menyakitkan di perut dan dadaku, yang terasa hanyalah kegelapan yang menelanku dalam keheningan yang dingin dan mencekam.....

.....♥.....

Di ruang tunggu Penginapan Melati, seorang pemuda bernama Julian sedang bersantai di sofa sambil asyik menyaksikan tayangan berita kriminal di televisi. Mata Julian terpaku pada presenter liputan 2 siang, yang mulai membacakan beritanya....

”Berita terbunuhnya seorang pemuda bernama Dafi Ramadhan di sebuah gedung pencakar langit di Kota Baru masih terus dipublikasikan media massa. Pemuda itu dibunuh oleh seorang gadis yang mengalami gangguan jiwa bernama Emyle Larasati,yang ternyata putri dari seorang pemilik rumah sakit besar di Banjarmasin. Menurut sumber, Emyle ternyata juga membunuh ibu dan kakak kandungnya dua tahun silam, karena tidak tahan melihat penyiksaan yang dilakukan ayahnya terhadap keduanya.

Polisi yang berkerjasama dengan pihak rumah sakit terkait yang merawatnya masih terus melacak jejak Emyle yang berhasil melarikan diri. Inilah foto Emyle... yang menjadi tersangka pembunuhan!”

Belum sempat Julian melihat foto yang dipertontonkan, tiba-tiba saja seorang gadis berambut cepak mematikan televisi dan duduk disampingnya. Julian menatap sinis gadis yang telah mengganggunya itu, tapi kemudian ekspresi sangarnya berubah menjadi senyuman. Ternyata gadis itu berparas cantik dan manis, membuat Julian terpana dan kemarahannya mereda.

”Hai, kayaknya loe orang baru ya? Kenalin gue Julian, anaknya Tante Mira pemilik penginapan ini.” sapa Julian cepat.

Gadis yang memiliki bekas sayatan dipergelangan tangan kanannya itu tersenyum, sembari menjabat tangan Julian dia berkata,

”Iya. Aku baru check in tadi pagi. Kenalkan, namaku Misa Ramadhan....”

..... ♪.....

By : Me "Julie"

KEMBAR SIAM

A. Pengertian Kembar Siam

Kembar siam adalah kehamilan kembar dimana zigot atau bakal embrio yang akan menjadi janin mengalami pembelahan sel yang inkomplit atau tidak sempurna sehingga terjadi kembar dempet / kembar siam.

Kembar siam adalah keadaan anak kembar di mana tubuh keduanya bersatu. Hal ini terjadi apabila zigot dari bayi kembar identik gagal terpisah secara sempurna. Kemunculan kasus kembar siam diperkirakan adalah satu dalam 200.000 kelahiran. Yang bisa bertahan hidup berkisar antara 5% dan 25%, dan kebanyakan (75%) berjenis kelamin perempuan.

Istilah kembar siam berawal dari pasangan kembar siam terkenal Chang dan Eng Bunker (1811-1874) yang lahir di Siam (sekarang Thailand). Kasus kembar siam tertua yang tercatat adalah Mary dan Eliza Chulkhurst dari Inggris yang lahir di tahun 1100-an.



B. Etiologi

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan hamil kembar, yakni :

1. Bangsa, umur, dan paritas sering mempengaruhi kehamilan kembar.

2. Faktor obat-obat ovulasi : propeltil, clomid, dan hormone gonadotropin dapat menyebabkan kehamilan zigotik dan kembar lebih dari dua.

3. Faktor keturunan.



C. Jenis Kembar Siam

Kembar siam terbagi dalam beberapa jenis kasus, yang didasari posisi pelekatan keduanya.

Dari seluruh kembar dempet, kebanyakan dempet terjadi pada empat anggota tubuh, yaitu dada sebanyak 40 persen, perut 35 persen, kepala 12 persen dan panggul antara enam hingga sepuluh persen.

Ada beberapa jenis kembar siam:

1. Thoracopagus

Kedua tubuh bersatu di bagian dada (thorax). Jantung selalu terlibat dalam kasus ini. Ketika jantung hanya satu, harapan hidup baik dengan atau tanpa operasi adalah rendah. (35-40% dari seluruh kasus)

2. Omphalopagus

Kedua tubuh bersatu di bagian bawah dada. Umumnya masing-masing tubuh memiliki jantung masing-masing, tetapi biasanya kembar siam jenis ini hanya memiliki satu hati, sistem pencernaan, diafragma dan organ-organ lain. (34% dari seluruh kasus)

3. Xiphopagous

Kedua tubuh bersatu di bagian xiphoid cartilage.

4. Pygopagus (iliopagus)

Bersatu di bagian belakang. (19% dari seluruh kasus)

5. Cephalopagus

Bersatu di kepala dengan tubuh yang terpisah. Kembar siam jenis ini umumnya tidak bisa bertahan hidup karena kelainan serius di otak. Dikenal juga dengan istilah janiceps (untuk dewa Janus yang bermuka dua) atau syncephalus.

6. Cephalothoracopagus

Tubuh bersatu di kepala dan thorax. Jenis kembar siam ini umumnya tidak bisa bertahan hidup. (juga dikenal dengan epholothoracopagus atau craniothoracopagus)

7. Craniopagus

Tulang tengkorak bersatu dengan tubuh yang terpisah. (2%)

8. Craniopagus parasiticus

Bagian kepala yang kedua yang tidak memiliki tubuh.

9. Dicephalus

Dua kepala, satu tubuh dengan dua kaki dan dua atau tiga atau empat lengan (dibrachius, tribrachius atau tetrabrachius) Abigail dan Brittany Hensel, adalah contoh kembar siam dari Amerika Serikat jenis dicephalus tribrachius.

10. Ischiopagus

Kembar siam anterior yang bersatu di bagian bawah tubuh. (6% dari seluruh kasus)

11. Ischio-omphalopagus

Kembar siam yang bersatu dengan tulang belakang membentuk huruf-Y. Mereka memiliki empat lengan dan biasanya dua atau tiga kaki. Jenis ini biasanya memiliki satu sistem reproduksi dan sistem pembuangan.

12. Parapagus

Kembar siam yang bersatu pada bagian bawah tubuh dengan jantung yang seringkali dibagi. (5% dari seluruh kasus)

13. Diprosopus

Satu kepala dengan dua wajah pada arah berlawanan.


D. Presentasi Janin

Pada kehamilan kembar siam dapat ditemui berbagai kombinasi letak, presentasi dan posisi, adapun yang paling sering dijumpai adalah :

1. Kedua janin dalam letak membujur, presentasi kepala (44-47%)

2. Keduanya presentasi bokong (8-10%)

3. Dua-duanya letak lintang (0,2-0,6%)


E. Diagnosis

1. Anamnesis

a. Perut lebih buncit dari semestinya sesuai dengan umur tuanya kehamilan

b. Gerakan janin lebih banyak dirasakan ibu

c. Uterus terasa lebih cepat membesar

d. Pernah hamil kembar atau riwayat keturunan kembar(Mochtar, 2002).

2. Inspeksi dan Palpasi

a. Pada pemeriksaan pertama dan ulangan ada kesan uterus lebih besar dan lebih cepat tumbuh dari pada kehamilan yang biasa

b. Gerakan janin terasa lebih sering

c. Bagian terkecil teraba lebih banyak

d. Teraba ada 3 bagian besar janin

e. Teraba 2 balotement (Mochtar, 2002).

3. Auskultasi

Terdengar 2 DJJ pada dua tempat yang agak berjauhan dengan perbedaan kecepatan sedikitnya 10 denyut permenit atau bila dihitung bersama terdapat selisih 10 denyut (Mochtar, 2002).

4. Rontgen foto abdomen

Tampak gambaran 2 janin yang salah satu bagian tubuhnya saling berdempet (Mochtar, 2002).

5. Ultrasonografi

Bila tampak 2 janin yang salah satu bagian tubuhnya saling berdempet atau 2 jantung yang berdenyut yang telah dapat ditentukan pada triwulan I (Mochtar, 2002).

6. Elektrokardiogram total

Terdapat gambaran dua EKG yang berbeda dari kedua janin (Mochtar, 2002).

7. Reaksi Kehamilan

Kerena pada kehamilan kembar plasenta besar atau ada 2 plasenta maka produksi HCG akan tinggi, jadi titrasi reaksi kehamilan bisa positif, kadang-kadang samapi 1/200. Hal ini dapat dikacaukan dengan mola hidatidosa (Mochtar, 2002).


F. Pengaruh

Pengaruh terhadap Ibu

1. Kebutuhan akan zat-zat bertambah, sehingga dapat menyebab anemia atau defesiensi zat-zat lainnya

2. Kemungkinan terjadi hidramnion bertambah 10 kali lebih besar.

3. Frekuensi preeklampsi dan eklampsi lebih sering

4. Karena uterus yang besar, ibu sering mengeluh sesak napas, serimg miksi serta odem dan varesies pada tungkai dan vulva.

5. Dapat terjadi inersia uteri, perdarahan postpartum, dan solusio plasenta sesudah anak pertama lahir (Manuaba 2010 dan Mochtar, 2002).


G. Penanganan

1. Pada saat Kehamilan

a. Perawatan prenatal yang baik untuk mengenal kehamilan kembar dan mencegah komplikasi yang timbul, dan bila diagnosis telah ditentukan maka pemeriksaan ulang harus lebih sering (1x seminggu pada kehamilan lebih dari 32 minggu)

b. Setelah kehamilan 30 minggu, koitus dan perjalanan jauh sebaiknya dihindari karena merangsang partus prematurus.

c. Pemakaian korset gurita yang tidak terlalu ketat diperbolehkan supaya terasa lebih ringan.

d. Periksa darah lengkap, Hb dan golongan darah.

2. Pada saat Persalinan

Bersalin di Rumah Sakit dengan Dokter (Seksio Caessaria)

PRE-EKLAMPSI GRAVIDARUM

A. Pengertian Pre-eklampsia Gravidarum

Manuaba (1998) mendefinisikan bahwa Pre-eklampsia Gravidarum (Toksemia Gravidarum) adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air kencing) atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.

Selain itu, Mansjoer (2000) mendefinisikan bahwa Pre-eklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. (Mansjoer, 2000)

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Pre-eklampsia Gravidarum atau Toksemia Gravidarum adalah suatu kondisi yang bisa dialami oleh setiap wanita hamil. Penyakit ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah yang diikuti oleh peningkatan kadar protein di dalam urine. Wanita hamil dengan pre-eklampsia juga akan mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan. Pre-eklampsia umumnya muncul pada pertengahan umur kehamilan, meskipun pada beberapa kasus ada yang ditemukan pada awal masa kehamilan.


B. Klasifikasi Pre-eklampsia Gravidarum

Dibagi menjadi 2 golongan, yaitu sebagai berikut :

1. Pre-eklampsia Ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut:

a. Tekanan darah yang tinggi, yaitu tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring terlentang.

b. Kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka

c. Kenaikan berat 1 kg atau lebih per minggu.

d. Protein dalam urin, yaitu Proteinuria kwantatif 0,3 gr atau lebih per liter

2. Pre-eklampsia Berat

a. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih

b. Sakit kepala

c. Pandangan kabur dan tidak dapat melihat cahaya yang terang

d. Mual / muntah

e. Proteinuria 5 gr atau lebih per liter

f. Sedikit buang air kecil (Oliguria), yaitu 500 cc per 24 jam

g. Adanya gangguan serebral dan gangguan visus

h. Rasa nyeri pada epigastrium.

i. Terdapat edema paru dan sianosis.


C. Etiologi Pre-eklampsia Gravidarum

Penyebab Pre-Eklampsia Gravidarum sampai sekarang masih belum diketahui. Tetapi ada beberapa teori yang dapat menjelaskan tentang perkiraan etiologi dari Pre-Eklampsia Gravidarum. Adapun teori-teori tersebut antara lain :

1. Peran Prostasiklin dan Tromboksan.

2. Peran faktor imunologis.

3. Peran faktor genetik / familial

4. Terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi pre-eklampsi / eklampsi pada anak-anak dari ibu yang menderita pre-eklampsi / eklampsi.

5. Kecenderungan meningkatnya frekuensi pre-eklampsi / eklampspia dan anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat pre-eklampsi / eklampsia dan bukan pada ipar mereka.

6. Peran renin-angiotensin-aldosteron system (RAAS)

Beberapa penelitian juga menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya pre-eklampsia. Faktor faktor tersebut antara lain adalah gizi buruk, kegemukan dan gangguan aliran darah ke rahim.


D. Patofisiologis Pre-eklampsia Gravidarum

Pre-eklampsia dapat membuat plasenta tidak mendapatkan darah dalam jumlah yang cukup. Bila plasenta tidak mendapatkan cukup darah, maka bayi anda tidak akan mendapatkan cukup oksigen dan makanan. Ini dapat mengakibatkan kelahiran bayi dengan berat badan rendah

Keadaan ini dapat disertai kelainan faal hati berupa kenaikan kadar fosfatase alkali dan transaminase dalam serum, sedangkan ikterus jarang timbul, hanya terjadi pada keadaan berat, yaitu karena koagulasi intravaskuler (DIC) dengan hemolisis dan nekrosis hati.

Gambaran histopatologis menampakkan adanya trombi fibrin dalam sinusoid di periportal disertai tanda-tanda perdarahan serta nekrosis, sedangkan tanda-tanda inflamasi tidak ada.

Perdarahan intrahepatik dan subkapsuler menimbulkan keluhan nyeri epigastrik atau nyeri perut kuadran kanan atas, meskipun jarang terjadi, ruptur spontan hati yang mengakibatkan perdarahan intra peritoneal dan syok memerlukan tindakan bedah darurat.

Umumnya tidak ada pengobatan khusus terhadap kelainan faal hati yang terjadi pada toksemia gravidarum, terminasi kehamilan akan memperbaiki keadaan klinis dan histopatologisnya.


E. Faktor Resiko Pre-eklampsia Gravidarum

Resiko tinggi mengalami preeklamsia adalah :

1. Baru pertama kali hamil

2. Ibu hamil yang ibunya atau saudara perempuannya pernah mengalami pre-eklamsia

3. Ibu hamil dengan kehamilan kembar

4. Ibu hamil usia remaja

5. ibu hamil berusia lebih dari 35 tahun

6. Ibu hamil yang sebelum kehamilannya memiliki penyakit darah tinggi, penyakit ginjal atau Diabetes mellitus

7. Ibu hamil dengan obesitas


F. Tanda dan Gejala Pre-eklampsia Gravidarum

Biasanya tanda-tanda pre-eklamsia timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi dan akhirnya proteinuria.

Pada pre-eklamsia ringan tidak ditemukan gejala-gejala subyektif. Pada preeklamsia berat didapatkan sakit kepala di daerah frontal, skotoma, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, mual atau muntah-muntah.

Gejala-gejala ini sering ditemukan pada pre-eklamsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul. Tekanan darahpun meningkat lebih tinggi, edema menjadi lebih umum, dan proteinuria bertambah banyak.


G. Komplikasi dari Pre-eklampsia Gravidarum

Komplikasi utama dari pre-eklampsi adalah sindroma hellp, yang terdiri dari:

1. Hemolisis (penghancuran sel darah merah)

2. Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati)

3. Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah).

Sindroma hellp cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklamsi tertunda. jika terjadi sindroma hellp, bayi segera dilahirkan melalui operasi sesar. jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi, kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklamsi.

Pre-eklampsia juga dapat menyebabkan gangguan peredaran darah pada plasenta. Hal ini akan menyebabkan berat badan bayi yang dilahirkan relatif kecil. Selain itu, preeklampsia juga dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur dan komplikasi lanjutan dari kelahiran prematur yaitu keterlambatan belajar, epilepsi, sereberal palsy, dan masalah pada pendengaran dan penglihatan.


H. Pemeriksaan Penunjang

1. Penilaian Keadaan Ibu Klinis

a. TD : derajat keparahan, hubungan TD dgn CVA, bukan kejang

b. Gangguan penglihatan atau kabur

c. Tremor, iritabilitas, hiperaktif, somnolen

d. Hematologi : edema, perdarahan

e. Hepatik : nyeri kuadran kanan atas, epigastrik, mual & muntah

f. Ginjal : output dan warna urin


2. Penilaian Keadaan Janin

a. Gerakan ( > 10x / 24jam )

b. DJJ dan USG untuk perkembangan

c. Indeks cairan amnion

d. Pemeriksaan doppler arus darah : tali pusat


3. Pemeriksaan Laboratorium

a. Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah

· Penurunan hemoglobin (nilai rujukan 12-14 gr%)

· Hematokrit meningkat (nilai rujukan 37 – 43 vol%)

· Trombosit menurun (nilai rujukan 150 – 450 ribu/mm3)


b. Pemeriksaan Fungsi hati

· Bilirubin meningkat ( N= < 1 mg/dl )

· LDH (laktat dehidrogenase) meningkat

· Aspartat aminomtransferase (AST ) > 60 ul

· Serum Glutamat pirufat transaminase (SGPT)

meningkat ( N= 15-45 u/ml )

· Serum glutamat oxaloacetic trasaminase (SGOT)

meningkat ( N= <31 u/l )

· Total protein serum menurun ( N= 6,7-8,7 g/dl )

· Tes kimia darah Asam urat meningkat ( N= 2,4-2,7 mg/dl )

c. Urinalisis

Ditemukan protein dalam urine.


4. Radiologi

a. Ultrasonografi

Ditemukan retardasi pertumbuhan janin intra uterus. Pernafasan intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan volume cairan ketuban sedikit.

b. Kardiotografi

Diketahui denyut jantung janin bayi lemah.


I. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Keperawatan

1. Istirahat, berbaring miring ke kiri agar janin tidak menindih pembuluh darah

2. Sering melakukan pemeriksaan sebelum kelahiran

3. Diet rendah garam

4. Minum 8 gelas air perhari


Penalataksanaan Medis

1. Dokter akan memberikan obat-obat untuk menekan tekanan darah sampai perkembangan bayi cukup untuk dapat dilahirkan dengan selamat

2. Untuk mual dan muntah digunakan Antiemetic

3. Untuk nyeri subhepatik digunakan Morfin 2-4 mg iv dan Antasida

4. Antihipertensi

a. Minimalkan risiko CVA pada ibu

b. Maksimalkan kondisi ibu untuk persalinan yg aman

c. Mendapat waktu untuk penilaian lebih lanjut

d. Memperpanjang kehamilan

e. Persalinan pervaginam jika mungkin


J. Pencegahan

Sampai saat ini, tidak ada cara pasti untuk mencegah pre-eklampsia. Tetapi kita dapat mengontrol faktor-faktor penyebab terjadinya tekanan darah tinggi, antara lain :

1. Diet dan olahraga.

2. Gunakan sedikit garam atau sama sekali tanpa garam pada makanan

3. Minum 6-8 gelas air sehari

4. Jangan banyak makan makanan yang digoreng dan junkfood

5. Hindari minum minuman yang mengandung kafein dan alcohol

6. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu secara teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (pre-eklamsi ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.

7. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklemsi kalau ada factor-faktor predisposisi.

8. Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diit rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan.

KOMPLIKASI DAN PENYULIT PADA KEHAMILAN TRIMESTER II

1.1. Anemia Kehamilan

Yang dimaksud dengan anemia kehamilan pada trimester II adalah jika kadar hemoglobin < 10,5 gr/dL.

Tingkatan anemia :

1. Anemia ringan : 9-10 gr/dL

2. Anemia sedang : 7-8 gr/dL

3. Anemia berat : < 7 gr/dL

Tanda dan gejala dari anemia kehamilan antara lain adalah pucat, mudah pingsan, TD normal, gejala klinik dapat terlihat pada tubuh yang malnutrisi.



A. Anemia Defisiensi Besi

1. Pengertian

Adalah penurunan jumlah sel darah merah akibat dari kekurangan zat besi



2. Etiologi

a. Makanan tidak cukup mengandung zat besi (Fe)

b. Komposisi makanan tidak baik untuk penyerapan

c. Adanya gangguan penyerapan (penyakit usus)

d. Kebutuhan Fe meningkat



3. Patofisiologi

a. Darah meningkat 50% dalam kehamilan (hipervolemia), penambahan sel darah tidak sebanding dengan plasma darah (plasma 30%, sel darah 18%, Hb 19%)

b. Terjadi pengenceran darah dan Pembentukan sel darah merah terlalu lambat

c. Volume darah bertambah sejak usia kehamilan 10 minggu dan Puncaknya penambahan darah pada usia kehamilan 32-36 minggu



4. Tanda dan Gejala

a. Data subjektif : ibu mengatakan sering pusing, cepat lelah, lemas, susah bernafas

b. Data objektif : konjungtiva pucat, muka pucat, ujung-ujung kuku pucat



5. Komplikasi

Pada kehamilan Trimester 2 komplikasi yang menyertai anemia ini antara lain adalah partus prematurus, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim (PJT), asfiksia, gestosis/manifestasi keracunan karena kehamilan, IQ bayi rendah, dekompensasi kordis)



6. Penanganan

a. Oral : pemberian fero sulfat,/fero gluconat/Na-fero bisitrat 60 mg/hari, 800 mg selama kehamilan, 150-100 mg/hari

b. Parenteral : pemberian ferum dextran 1000 mg (20 ml) IV atau 2×10 ml/IM



B. Anemia Megaloblastik

1. Pengertian

Adalah anemia yang terjadi karena kekurangan asam folat



2. Gejala

a. Tangan atau kaki kesemutan dan kaku

b. Kehilangan sensasi sentuh

c. Kehilangan kemampuan indera penciuman

d. Sulit berjalan dan terlihat goyah

e. Demensia (kehilangan kemampuan psikis atau mental)

f. Kejiwaan terganggu (halusinasi, paranoia, psikosis / gangguan jiwa yang disertai dengan disintegrasi kepribadian)





1.2. Abortus

A. Pengertian

Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin belum mampu hidup di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 gr, atau usia kehamilan kurang dari 20 minggu karena pada saat ini proses plasentasi belum selesai. Pada bulan pertama kehamilan yang mengalami abortus, hampir selalu didahului dengan matinya janin dalam rahim.Abortus dapat di bagi sebagai berikut :

1. Abortus spontan adalah yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau pun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah. Abortus spontan dapat dibagi atas:

a. Abortus kompletus (keguguran lengkap) artinya seluruh konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus),sehingga rongga rahim kosong.

b. Abortus inkompletus (keguguran besisa) hanya sebagian dari hasil konsepsi yang di keluarkan,yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.

c. Abortus insipiens (keguguran sedang berlangsung) adalah abortus yang berlangsung,dengan ostium sudah terbuka dan ketuban yang teraba kehamilan tidak dapat di pertahankan lagi.

d. Abortus iminens (keguguran yang bisa di pertahankan) keguguran yang keluarnya fetus masih dapat di cegah dengan memberikan obat-obatan hormonal dan antipasmodika serta istirahat.

e. Missed abortion adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak di keluarkan selama 2 bulan atau lebih.

f. Abortus habitualis (keguguran berulang) adalah keadaan dimana penderita mengalami keguguran berturut-turut 3 kali atau lebih.

g. Abortus infeksiosus adalah keguguran yang di sertai infeksi genital.

h. Abortus septik adalah keguguran di sertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritonium.



2. Abortus provakartus Adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat. Abortus ini terbagi lagi menjadi:

a. Abortus medisinalis (abortus therapeutic) adalah abortus karena tindakan kita sendiri,dengan alasan bila kehamilan di lanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis) biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter.

b. Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau berdasarkan indiksi medis.



B. Etiologi

Abortus pada wanita hamil bisa terjadi karena beberapa penyebab diantaranya :

1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi. Kelainan inilah yang paling umum menyebabkan abortus pada kehamilan sebelum umur kehamilan 8 minggu. Beberapa faktor yang menyebabkan kelainan ini antara lain : kelainan kromoson/genetik, lingkungan tempat menempelnya hasil pembuahan yang tidak bagus atau kurang sempurna dan pengaruh zat-zat yang berbahaya bagi janin seperti radiasi, obat obatan, tembakau, alkohol dan infeksi virus.

2. Kelainan pada plasenta. Kelainan ini bisa berupa gangguan pembentukan pembuluh darah pada plasenta yang disebabkan oleh karena penyakit darah tinggi yang menahun.

3. Faktor ibu seperti penyakit penyakit kronis yang diderita oleh sang ibu seperti radang paru paru, tifus, anemia berat, keracunan dan infeksi virus toxoplasma.

4. Kelainan yang terjadi pada organ kelamin ibu seperti gangguan pada mulut rahim, kelainan bentuk rahim terutama rahim yang lengkungannya ke belakang (secara umum rahim melengkung ke depan) dan kelainan bawaan pada rahim.

5. Kelainan pada ovum atau spermatozoa, dimana kalau terjadi pembuahan hasilnya adalah pembuahan yang patologis.



Adapun beberapa faktor yang menyebabkan kelainan pertumbuhan pada janin antara lain adalah :

1. Kelainan kromosom.

Kelainan yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah trisomi,poliploidi dan kemungkinan pula kelainan kromosom seks.

2. Lingkungan kurang sempurna.

Bila lingkungan di endometrium di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehinggga pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi terganggu.

3. Pengaruh dari luar.

Radiasi, virus, obat-obatan, dan sebagainya dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya dalam uterus.Pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh teratogen. Zat teratogen yang lain misalnya tembakau, alkohol, kafein, dan lainnya.

4. Kelainan pada plasenta

Endarteritis dapat terjadi dalam vili koriales dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan pertumbuhan dan kematian janin.Keadaan ini biasa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.

5. Penyakit ibu.

a. Penyakit infeksi dapat menyebabkan abortus yaitu pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis, malaria, dan lainnya. Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, kemudian terjadi abortus.

b. Kelainan endokrin misalnya diabetes mellitus, berkaitan dengan derajat kontrol metabolik pada trimester pertama.selain itu juga hipotiroidism dapat meningkatkan resiko terjadinya abortus, dimana autoantibodi tiroid menyebabkan peningkatan insidensi abortus walaupun tidak terjadi hipotiroidism yang nyata.



C. Patofisiologi

Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan disekitarnya.Hal tersebut menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga merupakan benda asing dalam uterus.Keadaan ini menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua lebih dalam, sehingga hasil konsepsi mudah dilepaskan. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan.Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin disusul dengan plasenta.Pedarahan jumlahnya tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap.

Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Adakalanya kantong amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum) atau janin telah mati dalam waktu yang lama (missed abortion).

Apabila janin yang mati tidak dikeluarkan secepatnya, maka akan menjadi mola karneosa. Mola karneosa merupakan suatu ovum yang dikelilingi oleh kapsul bekuan darah.Kapsul memiliki ketebalan bervariasi, dengan villi koriales yang telah berdegenerasi tersebar diantaranya.Rongga kecil didalam yang terisi cairan tampak menggepeng dan terdistorsi akibat dinding bekuan darah lama yang tebal.Bentuk lainnya adalah mola tuberosa, dalam hal ini amnion tampak berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.

Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses mumifikasi. Mumifikasi merupakan proses pengeringan janin karena cairan amnion berkurang akibat diserap, kemudian janin menjadi gepeng (fetus kompresus). Dalam tingkat lebih lanjut janin dapat menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus).

Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak cepat dikeluarkan adalah terjadinya maserasi. Tulang-tulang tengkorak kolaps dan abdomen kembung oleh cairan yang mengandung darah.Kulit melunak dan terkelupas in uterus atau dengan sentuhan ringan.Organ-organ dalam mengalami degenerasi dan nekrosis.



D. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala dari Abortus antara lain adalah :

1. Perdarahan bisa sedikit atau banyak

2. Uterus tidak membesar

3. Tidak terdengar DJJ



E. Komplikasi

Komplikasi dari Abortus antara lain adalah :

1. Perdarahan (haemorrhage)

2. Perforasi ; sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga yang tidak ahli seperti bidan dan dukun.

3. Infeksi dan tetanus

4. Payah ginjal akut

5. Syok disebabkan perdarahan yang banyak dan infeksi berat.



F. Penatalaksanaan

1. Tirah baring

2. Obat

a. Penenang

b. Antispasme

3. Hormonal

a. Progesteron

b. Duphaston

c. Gestanon / Parameston

4. Periksa lab penunjang.





1.3. Kehamilan Ektopik Terganggu

A. Pengertian

Kehamilan ektopik atau yang dikenal orang awam sebagai kehamilan di luar kandungan adalah implantasi (penanaman) ovum yang telah dibuahi di tempat yang tidak semestinya (diluar rahim).Istilah ektopik berasal dari bahasa Inggris, ectopic, dengan akar kata dari bahasa Yunani, topos yang berarti tempat. Jika dibiarkan, kehamilan ektopik akan menyebabkan berbagai komplikasi yang dapat berakhir sampai kematian karena terjadinya perdarahan di dalam rongga perut yang tidak dapat terlihat dengan mata kasat.



B. Etiologi

Dari beberapa studi faktor resiko yang diperkirakan sebagai penyebabnya adalah :

1. Infeksi saluran telur (salpingitis), dapat menimbulkan gangguan pada motilitas

2. Riwayat operasi tuba.

3. Cacat bawaan pada tuba, seperti tuba sangat panjang.

4. Kehamilan ektopik sebelumnya.

5. Aborsi tuba dan pemakaian IUD.

6. Kelainan zigot, yaitu kelainan kromosom.

7. Bekas radang pada tuba; disini radang menyebabkan perubahan-perubahan pada endosalping, sehingga walaupun fertilisasi dapat terjadi, gerakan ovum ke uterus terlambat.

8. Operasi plastik pada tuba.

9. Abortus buatan.



C. Patofisiologi

Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri.Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada beberapa kemungkinan akibat dari hal ini yaitu:

1. Kemungkinan “tubal abortion”, lepas dan keluarnya darah dan jaringan ke ujung distal (fimbria) dan ke rongga abdomen. Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan ampulla, darah yang keluar dan kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya tidak begitu banyak karena dibatasi oleh tekanan dari dinding tuba.

2. Kemungkinan ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum, sebagai akibat dari distensi berlebihan tuba.

3. Faktor abortus ke dalam lumen tuba

Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda.Ruptur dapat terjadi secara spontan atau karena trauma koitus dan pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang sedikit hingga banyak, sampai menimbulkan syok dan kematian.



D. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala dari kehamilan ektopik terganggu antara lain adalah :

1. Amenorhea

2. Nadi cepat dan lemah (110X/menit atau lebih)

3. Kelelahan dan pucat

4. Nyeri perut bagian bawah yang snagat dan berawal dari satu sisi, tengah, seluruh perut bagian bawah akibat robeknya tuba

5. Penderita bisa sampai pingsan dan syok

6. Perdarahan pervaginam biasanya berwarna hitam

7. Pusing, perdarahan, berkeringat, pembesaran payudara, perubahan warna pada vagina dan serviks, perlunakan serviks, pembesaran uterus, frekuensi BAK meningkat.



E. Penatalaksanaan

Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi.Pada laparotomi perdarahan selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksa yang menjadi sumber perdarahan.Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dalam rongga perut sebanyak mungkin dikeluarkan. Dalam tindakan demikian, beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu : kondisi penderita pada saat itu, keinginan penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik. Hasil ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi (pemotongan bagian tuba yang terganggu) pada kehamilan tuba. Dilakukan pemantauan terhadap kadar HCG (kuantitatif). Peninggian kadar HCG yang berlangsung terus menandakan masih adanya jaringan ektopik yang belum terangkat.

Penanganan pada kehamilan ektopik dapat pula dengan transfusi, infus, oksigen, atau kalau dicurigai ada infeksi diberikan juga antibiotika dan antiinflamasi.Sisa-sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat dan harus dirawat inap di rumah sakit.





1.4. Mola Hidatidosa

A. Pengertian

Mola hidatidosa adalah jonjot karion (charionic villi) yang tumbuh berganda berupa gelembung-gelembung kecil yang mengandug banyak cairan sehingga menyerupai buah anggur, atau mata ikan.Karena itu disebut hamil anggur atau mata ikan.Kelainan ini merupakan neoplasma yang jinak. Mola di bagi menjadi dua yaitu :

1. Mola hidatidosa klasik/komplet

a. Janin atau bagian tubuh janin tidak ada

b. Sering disertai pembentukan kista lutein (25-30%)

2. Mola hidatidosa parsial/inkomplet

a. Janin atau bagian tubuh janin ada

b. Perkembangan janin terhambat akibat kelainan kromosom dan umumnya mati pada trimester pertama.



B. Etiologi

1. Faktor ovum : ovum sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat di keluarkan.

2. Keadaan sosial ekonomi yang rendah

3. Paritas tinggi

4. Kekurangan protein

5. Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas.



C. Patofisiologi

Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblast :

1. Teori missed abortion. Janin mati pada kehamilan 3 – 5 minggu karena itu terjadi gangguan peredarah darah sehingga terjadi penimbunan cairan masenkim dari villi dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.

2. Teori neoplasma dari Park. Sel-sel trofoblast adalah abnormal dan memiliki fungsi yang abnormal dimana terjadi reabsorbsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehigga timbul gelembung.

3. Studi dari Hertig lebih menegaskan lagi bahwa mola hidatidosa semata-mata akibat akumulasi cairan yang menyertai degenerasi awal atau tidak adanya embrio komplit pada minggu ke tiga dan ke lima. Adanya sirkulasi maternal yang terus menerus dan tidak adanya fetus menyebabkan trofoblast berproliferasi dan melakukan fungsinya selama pembentukan cairan.



D. Tanda dan Gejala

Gejala dari penyakit ini di tunjukan sebagaimana orang hamil normal, tanda awal persis kehamilan biasa, misalnya terlambat haid, keluhan mual, muntah.Hanya saja keluhan tersebut lebih hebat.Jika diperiksa tes kehamilan, hasilnya positif juga.

Selain gejala umum di atas, tanda-tanda lain diantaranya: tidak ada tanda-tanda gerakan janin, rahim nampak lebih besar dari umur kehamilan, misalnya terlambat 2 bulan, rahim nampak seperti hamil 4 bulan, keluar gelembung cairan mirip buah anggur bersamaan dengan perdarahan.

1. Anamnesa atau keluhan

a. Terdapat gejala hamil muda

b. Terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak, tidak teratur, warna merah tua, atau kecoklatan seperti bumbu rujak.

c. Pembesaran uterus tidak sesuai (lebih besar) dari tua kehamilan seharusnya.

d. Keluar jaringan seperti buah anggur atau mata ikan (tidak selalu ada) yang merupakan diagnosa pasti.

2. Inspeksi

a. Muka dan kadang-kadang badan kelihatan pucat kekuning-kuningan yang disebut muka mola (mola face).

b. Kalau gelembung mola keluar dapat dilihat jelas.

3. Palpasi

a. Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba lembek.

b. Tidak teraba bagian-bagian janin dan balotemen juga gerakan janin

c. Adanya fenomika harmonika : darah dan gelembung mola keluar dan fundus uteri turun, lalu naik lagi

Pastikan besarnya rahim, rahim terasa lembek, tidak ada bagian-bagian janin, terdapat perdarahan dan

4. Uji sonde

Sonde dimasukkan secara pelan-pelan dan hati-hati kedalam serviks kanalis dan kavum uteri. Bila tidak ada tahanan, kemungkinan mola

5. Foto rontgen : tidak terlihat tulang-tulang janin pada kehamilan 3-4 bulan.

6. USG: akan kelihatan bayangan badai salju dan tidak terlihat janin.



E. Penatalaksanaan

1. Terapi

a. Kalau perdarahan banyak dan keluar jaringan mola, atasi syok dan perbaiki KU dengan pemberian cairan dan tranfusi darah. Tindakan pertama dengan manual digital baru setelah itu evakuasi sisanya dengan kuretase.

b. Jika pembukaan kanalis servikalis masih kecil

§ Pasang beberapa ganggang laminaria untuk memperlebar pembukaan selama 12 jam

§ Setelah itu pasang infus dektrose 5% yang berisi 50 satuan oksitosin baru setelah itu evakuasi isi kavum

§ Kalau perdarahan banyak berikan transfusi darah dan lakukan tampon uterovaginal selama 24 jam.

c. Berikan obat-obatan antibiotika, uterotonika dan perbaiki KU

d. 7-10 hari setelah kerokan pertama, dilakukan kerokan kedua untuk membersihkan sisa-sisa jaringan, dan kirim lagi hasilnya untuk pemeriksaan lab

e. Histrektomi total dilakukan untuk resiko tinggi usia lebih dari 30 tahun, paritas 4 atau lebih dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi pusat atau lebih.

2. Periksa ulang

Ibu dianjurkan jangan hamil dulu dan dianjurkan memakai kontrasepsi pil. Juga dinasehatkan mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun.

a. Setiap minggu pada triwulan pertama

b. Setiap 2 minggu pada triwulan kedua

c. Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya

d. Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap tiga bulan

Setiap periksa ulang penting diperhatikan :

· Gejala klinis, perdarahan, KU

· Lakukan pemeriksaan pemeriksaan dalam pemeriksaan inspekulo : keadaan serviks, uterus terus bertambah kecil atau tidak, kista lutein bertambah kecil atau tidak.

· Reaksi biologis atau imunologis air seni. Jika reaksi kemih + maka harus dicurigai adanya keganasan.

3. Sitostatika profilaksis : pemberian methotrexate (MTX) dengan syarat:

a. Pengamatan lanjutan sukar dilakukan.

b. Apabila 4 minggu setelah evakuasi mola, uji kehamilan biasanya tetap + (positif).

c. Pada high risk mola.

KOMPLIKASI DAN PENYULIT PADA KALA I PERSALINAN

1. Terdapat Tanda Partus Lama

Tanda – tanda dari partus lama antara lain :

1. Fase Laten Memanjang

Fase laten yang memanjang ditandai dari pembukaan serviks kurang dari 4 cm setelah 8 jam dengan kontraksi teratur (lebih dari 2 kali dalam 10 menit)

2. Fase Aktif Memanjang

a. Istilah fase aktif memanjang mengacu pada kemajuan pembukaan yang tidak adekuat setelah didirikan diagnosa kala I fase aktif, dengan didasari atas :

· Pembukaan kurang dari 1 cm per jam selama sekurang-kurangnya 2 jam setelah kemajuan persalinan

· Kurang dari 1,2 cm per jam pada primigravida dan kurang dari 1,5 cm pada multipara

· Lebih dari 12 jam sejak pembukaan 4 cm sampai pembukaan lengkap (rata-rata 0,5 cm perjam)

b. Karakteristik Fase Aktif Memanjang :

· Kontraksi melemah sehingga menjadi kurang kuat, lebih singkat dan atau lebih jarang

· Kualitas kontraksi sama seperti semula tidak mengalami kemajuan

· Pada pemeriksaan vaginal, serviks tidak mengalami perubahan

c. Penyebab Fase Aktif Memanjang :

· Malposisi (presentasi selain belakang kepala)

· Makrosomia (bayi besar) atau disproporsi kepala-panggul (CPD)

· Intensitas kontraksi yang tidak adekuat

· Serviks yang menetap

· Kelainan fisik ibu (mis:pinggang pendek)

· Kombinasi penyebab atau penyebab yang tidak diketahui

Akibat Dari Persalinan Yang Lama

1. Terhadap Janin

Akibat untuk janin meliputi :

· Trauma

· Asidosis

· Kerusakan Hipoksik

· Infeksi

· Peningkatan Mortalitas serta Morbiditas Perinatal.

2. Terhadap Ibu

Akibat untuk ibu adalah :

· Penurunan semangat

· Kelelahan

· Dehidrasi

· Asidosis

· Infeksi

· Resiko Ruptur Uterus

· Perlunya intervensi bedah meningkatkan Mortalitas Dan Morbiditas.



2. Malposisi / Malpresentasi

Malposisi adalah merupakan posisi abnormal dari verteks kepala janin (dengan ubun-ubun kecil sebagai penanda) terhadap panggul ibu.

Malpresentasi adalah semua presentasi lain dari janin, selain presentasi verteks. Presentasi bukan belakang kepala (sungsang, letak lintang, dll) atau Presentasi ganda (adanya bagian janin, seperti lengan atau tangan, bersamaan dengan presentasi belakang kepala)

1. Masalah :

Janin dalam keadaan malpresentasi dan malposisi sering menyebabkan partus lama atau partus macet.

2. Penanganan Umum :

a. Lakukan penilaian cepat mengenai kondisi ibu termasuk tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan, suhu)

b. Lakukan penilaian kondisi janin :

Dengarkan denyut jantung janin (DJJ) segera setelah his :

· Hitung DJJ selama satu menit penuh paling sedikit setiap 30 menit selama fase aktif dan setiap 5 menit selama fase kedua.

· Jika DJJ kurang dari 100 atau lebih dari 180 kali permenit kemungkinan gawat janin.

c. Jika ketuban pecah, lihat warna cairan ketuban :

· Jika ada mekonium yang kental, awasi lebih ketat atau lakukan intervensi untuk penanganan gawat janin.

· Tidak adanya cairan pada saat ketuban pecah menandakan adanya pengurangan jumlah air ketuban yang mungkin ada hubungannya dengan gawat janin

d. Berikan dukungan moral dan perawatan pendukung lainnya.

e. Lakukan penilaian kemajuan persalinan memakai partograf.


3. Ketuban pecah Dini

Ketuban pecah dini pada prinsipnya adalah ketuban yang pecah sebelum waktunya. Ada teori yang menghitung berapa jam sebelum in partu, misalnya 2 atau 4 atau 6 jam sebelum in partu. Ada juga yang menyatakan dalam ukuran pembukaan serviks pada kala I, misalnya ketuban yang pecah sebelum pembukaan serviks 3 cm atau 5 cm, dan sebagainya.

1. Patofisiologi Ketuban Pecah Dini :

a. Efek kromosom, kelainan kolagen, serta infeksi.

b. Pada sebagian besar kasus ternyata berhubungan dengan infeksi (sampai 65%), disebabkan karena High virulence : bacteroides. Low virulence : lactobacillus.

c. Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

2. Komplikasi Ketuban Pecah Dini :

a. Infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin.

b. Persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.

c. Prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia


4. Kelainan Tenaga Atau His

Kelainan his terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua. Pada multipara lebih banyak ditemukan yang bersifat inersia uteri. Faktor herediter mungkin memegang peranan yang sangat penting dalam kelainan his. Satu sebab yang penting dalam kelalinan his, khususnya inersia uteri adalah bagian bawah janin tidak berhubungan rapat dengan segmen bawah uterus seperti misalnya pada kelainan letak janin atau pada kelainan CPD.

Peregangan rahim yang berlebihan pada kehamilan ganda atau hidramnion juga dapat merupakan penyebab inersia uteri. Gangguan dalam pembentukan uterus pada masa embrional misalnya; uterus bikornis unikolis, dapat pula mengakibatkan kelainan his.

1. His Hipotonik

a. Pengertian :

· Kelainan dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman, singkat dan jarang daripada biasa, keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction.

· Kalau timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama hal ini dinamakan dengan inersia uteri sekunder.

· Diagnosis inersia uteri paling sulit dalam fase laten. Kontraksi uterus yang disertai rasa nyeri tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai.

· Untuk sampai pada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi terjadi perubahan pada servik yaitu pendataran atau pembukaan servik

b. Penanganan :

· Setelah diagnosis inersia uteri ditetapkan, harus diperiksa keadaan servik, presentasi serta posisi janin, turunnya kepala janin dalam panggul dan keadaan panggul.

· Apabila ada disproporsi chepalopelvik yang berarti, sebaiknya diambil keputusan untuk melakukan SC.

· KU pasien sementara diperbaiki, dan kandung kencing serta rectum dikosongkan, apabila kepala atau bokong janin sudah masuk ke dalam panggul, penderita di sarankan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu.

· Untuk merangsang his selain dengan pemecahan ketuban bisa diberikan oksitosin, 5 satuan oksitosin dimasukan ke dalam larutan glukosa 5% dan diberikan secara infus IV (dengan kecepatan kira-kira 12 tetes permenit yang perlahan dapat dinaikan sampai kira-kira 50 tetes.

· Kalau 50 tetes tidak dapat berhasil bisa dengan memeberikan dosis lebih tinggi dengan cara pasien harus di awasi dengan ketat dan tidak boleh ditinggalkan.

· Oksitosin yang diberikan dengan suntikan IM akan dapat menimbulkan incoordinate uterin action.

2. His Hipertonik (his terlampau kuat)

a. Pengertian :

· Walaupun pada golongan koordinate hipertonik uterin contraction bukan merupakan penyebab distosia namun bisa juga merupakan kelaianan his.

· His yang terlalu kuat atau terlalu efisien menyebabkan persalinan selesai dalam waktu yang sangat singkat (partus presipitatus): sifat his normal, tonus otot di luar his juga biasa, kelainannya terletak pada kekuatan his.

· Bahaya partus presipitatus bagi ibu ialah terjadinya perlukaan luas pada jalan lahir, khususnya servik uteri, vagina dan perineum.

· Sedangkan pada bayi dapat mengalami perdarahan dalam tengkorak karena bagian tersebut mengalami tekanan kuat dalam waktu sangat singkat.

b. Penanganan :

· Pada partus presipitatus tidak banyak yang dapat diilakukan karena biasanya bayi sudah lahir tanpa ada seseorang yang menolong.

· Kalau seorang wanita pernah mengalami partus presipitatus kemungkinan besar kejadian ini akan berulang pada persalinan selanjutnya. Oleh karena itu sebaiknya wanita di rawat sebelum persalinan, sehingga pengawasan dapat dilakukan dengan baik, dan episiotomi dilakukan pada waktu yang tepat untuk menghindari ruptur perineum tingkat III.

c. His yang tidak terkoordinasi

a. Pengertian :

· His disini sifatnya berubah-ubah tonus otot uterus meningkat juga di luar his, dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi antara kontraksi bagian-bagiannya.

· Tidak adanya koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dan mengadakan pembukaan.

· Disamping itu tonus otot uterus yang menaik menyebabkan rasa nyeri yang lebih keras dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia pada janin.

· His ini disebut sebagai incoordinate hipertonik uterin contraction.

b. Penanganan :

· Kelainan ini hanya dapat diobati secara simtomatis karena belum ada obat yang dapat memperbaiki koordinasi fungsional antara bagian-bagian uterus.

· Usaha yang dapat dilakukan ialah mengurangi tonus otot dan mengurangi ketakutan penderita. Hal ini dapat dilakukan dengan pemberian analgetika, seperti morphin, pethidin.

· Akan tetapi persalinan tidak boleh berlangsung berlarut-larut apalagi kalau ketuban sudah pecah.

· Dan kalau pembukaan belum lengkap, perlu dipertimbangkan SC.


5. Syok

Tanda – tanda dari Ibu yang mengalami syok :

a. Nadi cepat, lemah (lebih dari 110 x/menit)

b. Tekanan darahnya rendah (sistolik kurang dari 90 mmhg)

c. Pucat

d. Berkeringat atau kulit lembab, dingin

e. Napas cepat (lebih dari 30 x/menit

f. Cemas, bingung atau tidak sadar

g. Produksi urin sedikit (kurang dari 30 ml/jam)